Abdul Haris Nasution, Jenderal Besar Indonesia

Biografi Abdul Haris Nasution, Jenderal Besar Indonesia – Abdul Haris Nasution lahir pada tanggal 3 Desember 1918 di desa Hutapungkut, kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Abdul Haris Nasution merupakan jenderal Indonesia yang menjabat sebagai kepala staf tentara Indonesia sebanyak dua kali.nasution

Abdul Haris Nasution juga seorang jenderal yang berhasil meloloskan diri dari percobaan pembunuhan saat terjadinya gerakan G30SPKI pada tahun 1965. Abdul Haris Nasution berasal dari keluarga batak muslim. Abdul Haris Nasution merupakan anak ke dua dan anak laki – laki pertama dalam keluarganya.

Ayah Abdul Haris Nasution merupakan seorang pedagang tekstil, karet dan kopi serta merupakan salah satu anggota organisasi Sarekat Islam. Ayahnya sangat religious sehingga menginginkan anaknya belajar di sekolah keagamaan sedangkan ibunya menginginkannya sekolah kedokteran di Batavia. Namun, setelah lulus sekolah di tahun 1932, Abdul Haris Nasution mendapatkan beasiswa untuk belajar mengajar di Bukittinggi.

Di tahun 1935, Abdul Haris Nasution pindah ke Bandung untuk menlanjutkan pendidikan. Keinginannya menjadi guru lama – lama menghilang karena ketertariaknnya di politik semakin meningkat.

Abdul Haris Nasution secara rahasia membeli buku – buku yang ditulis oleh seorang nasionalis Indonesia Soekarno dan membacanya bersama temannya. Setelah lulus pada tahun 1937, Abdul Haris Nasution kembali ke Sumatera dan mengajar di Bengkulu tinggal dekat dengan kediaman Soekarno yang hisup di penjara.

Abdul Haris Nasution kadang – kadang berbicara dengan Soekarno dan mendengarnya member pidato. Setahun setelah Abdul Haris Nasution pindah ke Tanjung praja dekat Palembang.

Di tahun 1940, colonial belanda mendirikan sebuah pasukan yang diisi oleh orang orang pribumi. Abdul Haris Nasution mendaftar untuk bergabung karena ini satu – satunya cara untuk mendapatkan pelatihan militer. Bersama dengan beberapa orang Indonesia, Abdul Haris Nasution dikirim ke Akademi Militer di Bandung untuk pelatihan.

Di bulan September 1940 Abdul Haris Nasution dipromosikan menjadi kopral kemudian tiga bulan setelahnya menjadi sersan. Abdul Haris Nasution kemudian menjadi tentara di KNIL. Di tahun 1942, Abdul Haris Nasution di Surabaya untuk mempertahankan pelabuhan disana karena penyerbuan tentara Jepang.

Abdul Haris Nasution kemudian dapat kembali ke Bandung dan pergi untuk bersembunyi karena Abdul Haris Nasution takut tertangkap oleh tentara Jepang. Abdul Haris Nasution kemudian membantu tentara PETA yang dibentuk oleh belanda untuk membawa pesan tetapi tidak benar – benar menjadi anggota.

Meskipun asisten, Abdul Haris Nasution memberinya kekuasaan, Seoharto melihat Abdul Haris Nasution sebagai seorang saingan dan mulai untuk mnyingkirkan Abdul Haris Nasution dari kekuasaan. Di tahun 1969, Abdul Haris Nasution dihalangi dari berbicara di Seskoad dan akademi militer.

Di tahun 1971, Abdul Haris Nasution tiba – tiba berhenti dari militer ketika berumur 53 tahun dua tahun sebelum tahun pensiunnya ketika berumur 55 tahun. Abdul Haris Nasution menjadi ketua MPR akibat pemilihan pada tahun 1971.

Kemudian pada tahun 1972 akhirnya dibuang dari MPR dan digantikan oleh Idham Chalid yang menggantikannya sebagai ketua MPR. Abdul Haris Nasution secara drastic jatuh dan mendapatkan julukan Gelandangan Politik.

Pada tanggal 5 Oktober 1997, pada saat ulang tahun ABRI, Abdul Haris Nasution diberikan pangkat kehormatan sebagai Jenderal Besar, pangkat ini sama dengan Soeharto dan Soedirman. Abdul Haris Nasution meninggal pada tanggal 5 September 2000 di Jakarta setelah menderita Stroke dan mengalami koma.

Baca juga : Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Pertama Indonesia

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *