Aksi Heroik dalam Tragedi Puputan Bali

Aksi Heroik dalam Tragedi Puputan Bali – Seorang pahlawan diartikan sebagai seorang yang memiliki keberaian yang sangat besar dibandinggak orang lainnya serta memiliki keinginan untuk mengorbankan diri bagi kepentingan orang lain. Keberanian tersebut meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi bahaya. Khususnya hal ini dimiliki dalam semangat keberanian orang bali yang biasanya hanya ada dalam di seorang raja.puputan

Seorang raja di Bali mendapatkan gelar Ngurah. Ngurah sendiri digunakan untuk nama raja yang dijadikan sebagai wali, penjamin dan pelindung bagi tanah air beserta rakyatnya. Seorang Ngurah harus mampu mempertahankan sesuatu atau melakukan sesuatu jika terjadi sesuatu yang membahayakan kerajaannya dengan memberikan hukuman bagi pelanggar peraturan.

Satu dari Ngurah yang terkenal adalah I Gusti Ngurah Rai yang berasal dari desa Canangsari. Melihat dari sejarah yang ada, I Gusti Ngurah Rai adalah keturunan dari pejabat kerajaan Mengwi.

Puputan merupakan sebuah istilah di Bali yang menggambarkan sebuah ritual bunuh diri secara massal sebagai pilihan untuk menghadapi penghinaan dari sebuah pengepungan atau saat keadaan terdesak dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk bertahan.

Banyaknya tokoh puputan terjadi pada tahun 1906 dan 1908 dimana orang-orang bali ditaklukkan oleh Belanda. Pada tahun 1906 tejadi yang dikenal dengan Badung Puputan. Tepatnya tanggal 14 September 1906, sebuah pasukan Belanda yang dijuluki Sixth Military Expedition mendarat di bagian utara pantai Sanur. Pasukan ini dibawah komando mayor jenderal MB Rost van Tonningen.

Pasukan Badung membuat beberapa penyerangan pada Belanda di pantai Sanur pada tanggal 15 September 1906. Belanda berhasil menekan pasukan Bali dan memasuki pulau, belanda menyerang beberapa kerajaan dan kekalahan terjadi dari kelompok Bali. Akibat mengalami kekalahan yang memalukan tersebut raja dan pengikutnya melakukan puputan.

Cerita lain mengenai Puputan ini menggambarkan bahwa Belanda yang pertama menyerang orang-orang bali dan mendesak mereka ke luar dari gerbang kerajaan, dengan hanya bersenjatakan keris, tombak dan perisai tradisional yang bertahan membunuh diri mereka sendiri atau membiarkan diri mereka dibunuh oleh pengikutnya untuk mengikuti puputan. Pembunuhan besar-besaran ini diingat secara local sebagai Badung puputan dan dipuja sebagai salah satu contoh pertahanan terhadap agresi dari luar.

Puputan lainnya terjadi pada tanggal 18 April 1908 di kerajaan Klungkung. Belanda kembali berseteru dengan kerajaan Klungkung karena raja menentang monopoli yang dilakukan Belanda.

Puncak perseteruan terjadi ketika belanda membombardir pusat kerajaan Klungkung. Pada akhir konfrontasi di tanggal 18 April 1908, Dewa agung jamble yang merupakan raja klungkung dibantu oleh 200 pengikutnya membuat serangan tiba-tiba terhadap belanda namun serangan tersebut gagal dan Raja Klungkung Dewa agung jamble justru ditembak oleh senjata pasukan Belanda.

Setelah kejadian itu, semua keluarga dan pengikut raja memutuskan untuk melakukan puputan, membunuh diri mereka sendiri dengan kerisnya sendiri dan kemudian diikuti oleh rakyat bali lainnya yang berada pada saat itu.

Selain itu juga terjadi puputan pada tahun 1946. Puputan Margarana merupakan sebuah pertarungan lengkap pasukan bali yang dijuluki Ciung Wanarayang yang pasukannya dipimpin oleh kolonel I Gusti Ngurah Rai melawan tentara Belanda (NICA) pada tanggal 20 November 1946. Pertempuran terjadi di Banjar kalaci, desa Marga.

Dalam pertempuran ini kolonel I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya meninggal dan semua dari mereka dimakamkan disana. Pada tahun 1954 taman pujaan bangsa dibangun ditempat terjadinya peperangan tersebut. Pembangunan taman ini ditujukan untuk mengenang perjuangan saat itu. Pasukan Belanda menang dan berhasil masuk ke pulau dan bergerak ke Kesiman, Denpasar dan Tabanan.

Baca juga : Tragedi 10 November 1945, Perang Surabaya

Loading…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *