Aneka Rupa Layang – Layang Di Museum Layang – Layang Indonesia (Jakarta)

Di loket, para pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk sebesar 15 ribu rupiah per orang. Museum ini dikelola oleh pribadi. Termasuk di dalam tiket yang anda beli, nantinya bisa menonton video tentang layang – layang selama lebih kurang 15 menit, ikut tour gratis di dalam area museum dengan tamannya yang asri, dan setelahnya bisa berkreasi sendiri untuk membuat layang – layang sesuai kesukaan anda di rumah.

Ruang audiovisual terlihat sangat sederhana, menyediakan beberapa kursi dengan sistem multimedia yang seadanya saja sudah bisa mencapai tujuan dibangunnya museum ini meskipun dikelola secara pribadi, yaitu menyampaikan sejarah dan serba – serbi tentang layang – layang kepada para pengunjung melalui video berdurasi 15 menit.

Dari segi bentuk, ada layang – layang dua dimensi, contohnya seperti layangan yang biasa dimainkan oleh anak – anak di lapangan atau area sawah, dan layang – layang tiga dimensi, ada yang berbentuk rumah, perahu layar, burung, ikan, delman, capung, laba – laba, Dewi Sri khas adat dan budaya warga Bali, hingga naga bersusun. Layang – layang tiga dimensi pada umumnya bertema dan diterbangkan khusus pada acara festival layang – layang nasional maupun internasional.

Usai menonton lomba melayangan di atas, anda akan disambut oleh ibu – ibu dengan mengenakan kostum biru, kostum pegawai museum, mereka akan langsung membawa anda melewati serambi dengan nuansa furniture khas rumah adat Bali yang lebih banyak menonjolkan warna – warna natural, lalu memasuki ruang koleksi museum dimana anda bisa melihat layang -layang yang menjadi koleksi berasal dari seluruh mancanegara dan pelosok Nusantara. Ruangan museum sangat sederhana, hanya terdiri dari satu ruangan besar berbentuk persegi dan sebuah ruangan lainnya yang lebih kecil. Di ruangan besar ini dipamerkan beragam layangan khas Nusantara dari Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Sulawesi Tenggara, dan lain – lainnya.

Kendaraan beroda tiga digunakan untuk membantu menerbangkan layang – layang jenis quadrifoil. Si pelayang nantinya akan duduk di sekitar tanah lapang sambil mengendalikan layang – layang. Pengendaranya harus hafal dan mengerti secara cepat terhadap arah angin sehingga mampu menjaga keseimbangan saat mengendarainya. Layang – layang yang dibawakan pada umumnya merupakan jenis layang – layang untuk olahraga yang dikendalikan dengan menggunakan dua utas benang. Mereka sudah menguasai sekali pekerjaannya, layang -layang bisa dibuat berputar – putar dengan indah.

Pendiri Museum Layang – Layang adalah Ibu Endang Ernawati merupakan seorang pakar kecantikan yang kemudian tertarik untuk menekuni dunia layang – layang sejak tahun 1985. Berbagai festival layang – layang di dalam dan luar negeri pernah diikutinya dan sempat meraih gelar juara. Karena rasa cintanya yang sangat mendalam, pada tahun 1993 ia mendirikan museum ini. Sebagai museum layang – layang satu – satunya di Indonesia, museum milik pribadi ini berupaya untuk dapat melestarikan budaya layang – layang dari masing – masing wilayah di Indonesia.

Konon, di Gua Muna, Sulawesi Tenggara, ditemukan sebuah lukisan prasejarah berusia antara 5 hingga 9 ribu tahun yang menunjukkan figur seseorang sedang bermain layangan. Jika pendapat pakar sejarah tentang hal ini benar adanya, maka layangan pertama kali berasal dari Indonesia, dan bukan dari Cina seperti yang diduga selama ini. Layangan tradisional pertama dibuat dari bahan helaian daun yang diikat dan disatukan dengan serat nanas. Daun yang dipakai jenisnya berbeda – beda tergantung dari daerah asalnya, di Bali dari daun lontar, di Jawa Timur dari daun dadap, atau di Manado dari pelepah pisang. Layang – layang ini selanjutnya dipasang alat bunyi koangan yang berbentuk seperti busur panah dan bermanfaat untuk mengusir burung di sawah.

Layangan lain yang memiliki bentuk unik adalah layangan yang diberi nama dandang laki dan dandang bini yang berasal dari Kalimantan Selatan. Layangan yang sempat dijadikan simbol pernikahan ini biasanya dipasang di pelaminan, lalu setelah acara selesai, layangan akan diterbangkan di lapangan luas. Pada kedua pundak layangan dipasang koangan berbentuk tabung bambu menyerupai kentongan yang akan berdengung keras ketika terbang di angkasa. Konon layangan ini terinspirasi dari sekawanan burung enggang yang dikeramatkan oleh Suku Dayak.

Setelah lelah keliling museum, anda akan diajak belajar membuat layangan sendiri, gratis karena sudah termasuk di paket tiket di atas. Kerangka layang disebut arku yang tersedia sudah jadi. Jadi pengunjung tinggal menempelkan kertas di sekitarnya dan menggambari sesuai kesukaan untuk hiasan. Kegiatan yang cocok buat anak – anak anda.

Jam Buka
Setiap hari 09.00 – 16.00

Museum Layang – Layang Indonesia
http://www.museumlayanglayang.co.id/
Jalan H. Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta

Baca : Pengertian Kejaksaan

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *