Asal Mula Terciptanya Huruf Jawa

Asal Mula Terciptanya Huruf Jawa – Indonesia memang terdiri dari beraneka ragam suku dan budaya. Setiap daerah memiliki masing- masing ciri khas sebagai identitas daerah tersebut, mulai dari bahasa yang digunakan dalam keseharian, beraneka makanan khas, baju adat, hingga adapula huruf yang digunakan dalam membuat sutau tulisan.

12

Salah satu daerah yang memiliki huruf khas adalah daerah Jawa atau yang disebut juga sebagai aksara Jawa. Huruf Jawa tersebut memiliki asal- usul hingga digunakan sampai saat sekarang ini.

Jaman dahulu di sebuah desa di daerah Jawa Tengah hiduplah seorang pemuda yang memiliki kesaktian yang benama Aji Saka. Ia memiliki sebuah keris pusaka dan serban sakti yang selalu ia bawa kemana saja.

Selain kesaktiannya, Aji Saka juga dikenal memiliki hati yang baik karena senang menolong orang lain yang kesusahan. Kesehariannya pemuda tersebut rajin membantu ayahnya yang bekerja di ladang untuk menanam dan memanen hasil pertanian untuk memenuhi kehidupannya.

Suatu ketika, Aji Saka pun hendak pergi mengembara bersama temannya yang bernama Dora. Sementara itu keris pusakan yang dimilikinya ia titipkan kepada pria yang bernama Sembada untuk kemudian dibawanya ke Pegunungan Kendeng. Aji Saka memberi perintah agar Sembada menjaga dengan baik keris berharga dan sakti tersebut serta tidak boleh ada satu orangpun yang boleh mengambilnya selain Aji Saka tersebut. Kemudian pergilah Sembada ke pegunungan tersebut.

Aji Saka memulai perjalanan mengembaranya bersama Dora, saat memasuki hutan ia mendengar suara terikan meminta tolong dan dengan sigap Aji bersama Dora menjadi sumber suara tersebut berasal.

Setelah ditemukan ternyata terdapat seorang pria tua yang sedang dipukuli oleh dua orang perampok. Melihat hal tersebut Aji Saka dan Dora melawan kedua perampok tersebut dan kemudia mereka pergi. Ternyata sang kakek merupakan pengungsi dari Negeri Medang Kamukan.

Ia pergi dari tempat tinggalnya karena ia takut pada seorang raja di negerinya yang bernama Prabu Dewata Cengkar yang suka memakan daging manusia.mendengar hal tersebut Aji Saka dan Dora lekas mendatangi negeri tersebut untuk menolong para pengungsi yang lainnya agar terhindar dari kekejaman sang raja.

Datanglah Aji Saka bersama Dora ke sebuah kerajaan dan bertemu dengan Prabu Dewata Cengkar. Sesampainya disana Aji Saka dan Dora pergi di tawan oleh para tentara kerajaan dan sanga raja memnyuruh untuk memasak kedua pemuda tersebut untuk disantapnya.

Saat hendak ditawan, Aji SAja mengajukan suatu permohonan agar ia diberikan sebidang tanah seluas serban yang ia kenakan di kepalanya. Sang rajapun menyetujuinya dan mengukur sendiri luasan tanah dengan menggunakan serban sakti Aji Saka tersebut. Namun, anehnya ketika serban tersebut digulung malah akan bertambah panjang hingga tanpa tersa sang raja telah mengukur lahan dengan sorban hingga ke pantai selatan.

Aji Sakapun langsung menyentakkan serban tersebut dan sang raja tersungkur masuk ke laut dan berubah menjadi buaya putih. Mendengar hal tersebut para anggota kerajaan dan warga sangat senang kemudian mengangkat Aji Saka sebagai raja yang baru untuk memimpin negeri tersebut. setelah Aji Saka menjadi pemimpin, ia menyuruh kepada Dora untuk mengambil Keris yang ia titipkan kepada Sembada. Lalu pergilah Dora ke pegunungan tersebut untuk melaksanakan perintah raja.
Sesampainya Dora di pegunungan dan hendak mengambil keris, ia dihalangi oleh Sembada karena Sembada mempertahankan janjinya untuk menjaga keris tersebut. Keduanpun bertengkar dan terjadi pertarungan.

Aji Saka heran mengapa Dora tidak kunjung datang lalu ian memutuskan untuk datang langsung ke pegunungan tersebut. alangkah terkejutnya ketika Aji Saka tiba, ia melihat kedua temannya tersebut tewas akibat pertarungan. AJi Saka sangat sedih dan merasa bersalah ia lalu membuat sebuah tulisan aksara untuk mengenang kedua pengikutnya yang setia tersebut.

Baca Juga :

Asal Mula Tari Guel, Tari Tradisional dari Aceh

Sejarah Asal Mula Terbentuknya Gunung Merapi

Sejarah dan Asal Mula Pertanian Indonesia

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *