Awal Terciptanya Tari Piring

Ada banyak sekali kebudayaan yang dimiliki oleh negara Indonesia, salah satunya ialah aneka tarian. Seperti contohnya ialah tari piring, yang mana tarian ini dikarakterkan dengan penari yang membawa piring di kedua tangannya. Gerakannya pun lincah dan beragam, hingga menjadi salah satu tarian yang cantik nan menarik. Tarian asa kota Minangkabau ini pun menjadi salah satu tarian Indonesia yang wajib dijaga dan dilestarikan agar tidak dikesampingkan.

f 13

Asal mula tarian piring

Menurut sejarah, tari piring ini bermula dari para masyarakat di kota Minang yang masih menyembah dewa. Para masyarakat pun percaya bahwa dewa-dewalah yang memberikan hasil panen dalam jumlah yang melimpah. Untuk itulah mereka melakukan persembahan dengan membawa piring dan digerakkan dengan lembah lembut nan gemulai. Bahkan para penarinya pun didandani secantik dan serapi mungkin. Tarian inilah yang sudah dikenal dan dipastikan telah ada sekitar 800 tahun silam.

Perkembangan tarian in pun semakin baik dan pesat di bawah pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya. Hingga sangat tenar di seluruh kota di Sumatera Barat, akan tetapi sejak Sriwijaya jatuh ke tangan Majapahit. Peristiwa ini menjadikan tarian tersebut berubah 360 derajat, yang mana kerajaan Majapahit ini menganut agama Islam dan meniadakan ritual pemohonan sesaji dengan tarian piring ke dewa. Sebagai gantinya, tarian ini dipersembahkan untuk acara pesta hingga menjamu acara penting di kerajaan.

Bahkan dipersembahkan pula untuk acara masyarakat sekitar sebagai pengisi acara. Di samping itu, sebagian pihak yang tak ikut Majapahit memilih pindah ke melayu. Yang mana mereka pun tiba di Brunei Darussalam dan Malaysia dan membuat asal mula tarian pinang berasal dari Melayu.

Karakteristik dari tari piring

Dari tari piring ini yang diawali sebagai tarian untuk sesaji yang diperuntukkan bagi dewa, kini tak lagi seperti itu. Tarian yang membawa piring pada kedua tangan ini diletakkan pula lilin-lilin yang tengah menyala. Dalam pelaksanaannya, tarian ini dilakukan oleh para wanita dengan jumlah ganjil. Penari yang menari sekitar 15 menit ini tak diperbolehkan berjumlah genap. Di samping itu sebelum ataupun sesudah tarian ini berlangsung akan disertakan beberapa ritual lain.

Tak hanya itu saja, sebagai penari mereka pun harus memakai busana dengan warna yang cerah, seperti dengan warna kuning emas. Perihal ini pun dipercaya sebagai lambang kejayaan dan kekayaan. Di awali dengan busana mewah nan cerah itu, para penari akan memulai gerakannya dengan iringan musik-musik tradisional yaitu Gong dan Rebana.

Pada waktu dulu musik yang digunakan hanyalah dua itu saja namun kemudian terus mengalami perkembangan yakni dengan menambahkan beberapa alat musik lainnya. Seperti contohnya ialah gendang, kuningan, talempong dan beberapa alat musik lainnya.

Baca Artikel Lainnya :

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *