Berlibur Ke Indonesia Sambil Mengetahui Asal Mula Nasi Tumpeng Untuk Sukuran

Berlibur Ke Indonesia Sambil Mengetahui Asal Mula Nasi Tumpeng Untuk Sukuran – Tumpeng dari nasi kuning dalam ritual Jawa dikenal memiliki jenis yang bermacam-macam, antara lain : tumpeng sangga langit, tumpeng arga dumilah, tumpeng megono dan tumpeng robyong.

20160426_194845_resized

Diketahui bahwa tumpeng nasi kuning sarat dengan symbol mengenai ajaran tentang makna hidup sehingga sejarah mencatat kemunculan tradisi ini sudah berusia sangat tua yang dimulai pertama kali di pulau Jawa.

Tumpeng yang dikenal adalah tumpeng robyong yang sering dipakai sebagai sarana upacara slametan (sukuran) terhadap panen yang berlimpah, upacara adat keagamaan seperti bayi tiga bulan, sukuran membuat rumah baru dan lain sebagainya.

Tumpeng robyong merupakan symbol keselamatan, kesuburan dan kesejahteraan. Tumpeng yang menyerupai sebuah gunung ini menggambarkan kemakmuran sejati dari sebuah keluarga yang sedang melakukan ritual sukuran.

Dilukiskan bahwa air yang mengalir dari mata air yang berada di puncak gunung melalui sungai -sungai adalah media terpenting untuk menghidupi tumbuh-tumbuhan, hewan atau manusia.

Terutama untuk tumbuhan yang berbentuk robyong, banyak tumbuh subur di puncak gunung pada waktu musim semi atau musim hujan yang berarti bahwa hidup dan tumbuh berkembangnya sebuah keluarga yang sedang mengadakan sukuran dengan membuat tumpeng tersebut adalah sangat sempurna melambangkan sebuah kebahagiaan hidup.

Tumpeng memiliki bentuk kerucut, dibuat dari nasi kuning atau nasi uduk tetapi pada umumnya keluarga yang sukuran memakai nasi kuning yang berasa gurih.

Nasi tumpeng atau tumpengan selanjutnya dihiasi dengan beraneka bahan makanan atau sayuran sebagai lauk-pauk seperti sayur wortel, irisan mentimun dan tomat, telur rebus balado, telur dadar yang diiris tipis dan memanjang, ayam goreng sambal pedas, sambal pete, dllnya.

Jika anda lebih teliti, perhatikan bentuk kerucut tumpeng, maka akan mengingatkan anda pada bentuk gunung yang banyak ada di Indonesia dimana diketahui bahwa Indonesia merupakan negeri kepulauan yang mempunyai banyak gunung berapi.

Nenek moyang Indonesia menganggap bahwa gunung merupakan sebuah pemandangan yang selain indah untuk dinikmati sebagai objek wisata juga perlambang media untuk saling menghormati diantara para penghuni bumi.

Nasi tumpeng atau tumpengan dimaknai para leluhur atau nenek moyang mereka sebagai simbol keagungan dari gunung Mahameru.

Orang-orang Jawa Kuno penganut agama Hindu-Buddha kuno sejak dulu gemar belajar dan membaca serta memperhatikan tanda -tanda yang diberikan oleh alam sebagai media penjaga dari bencana alam.

Dari dulu sampai sekarang, nenek moyang dari suku Jawa di pulau Jawa tergolong suku yang suka beradaptasi dengan budaya dari luar pulau seperti mengadopsi tradisi membuat tumpeng ala suku Bali yang menonjolkan lauk-pauknya lebih bervariasi dibandingkan tumpengan ala orang Jawa.

Setelah masuk ke dalam budaya mereka di Jawa, budaya luar membawa suasana baru sehingga membuat acara sukuran menjadi lebih marak dijalankan oleh sebuah keluarga Jawa.

Orang Jawa kuno diketahui sangat percaya bahwa pada waktu-waktu tertentu gunung Mahameru akan mengalami perubahan karena kehendak para dewa dari Jambhudwipa dan Jawadwipa.

Baca Artikel Lainnya :

Selanjutnya karena pengaruh politis atau agama, pulau Jawa kemudian populer sebagai pusat budaya terbesar tentang ritual sukuran dengan menghadirkan tumpeng nasi kuning sebagai media mensakralkan acara sukuran yang erat hubungannya dengan agama dan budaya tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *