Biografi W.S. Rendra, Sastrawan Indonesia

Biografi W.S. Rendra, Sastrawan Indonesia – Pemilik nama baptis Wilibrordus Surendra Broto Rendra ini merupakan seorang sastrawanq, aktivis, actor, director dan penyair Indonesia yang lebih dikenal dengan panggilan W.S. Rendra atau Rendra. W.S. Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935. W.S. Rendra meninggal pada tanggal 6 Agustus 2009 di Depok, Jawa Barat ketika berumur 73 tahun.

wsrendra

Lahir dari keluarga katolik roma dan dibaptis dengan nama Wilibrordus Surendra Bawana Rendra, dia mengubah namanya menjadi hanya Rendra ketika W.S. Rendra memeluk agama Islam di tahun 1970. Setelah belajar sastra dan budaya inggris di Universitas Gajah Mada di Yogyakarta, W.S. Rendra tidak dapat menyelesaikan kuliahnya dikarenakan proyek teatrikal pertamanya dan W.S. Rendra telah bekerja waktu penuh. Di tahun 1963, W.S.

Rendra menampilkan peran pertamanya dalam Dead Voice menjadi mempesona dengan keahlian dan sejak saat itu, pertunjukan ritual keagamaan yang tradisional begitu juga pengalaman pelopor barat, mengambil hati penonton dan jumlahnya terus meningkat. Karena kealamian pembacaan puisinya dan penampilan seksinya di atas panggung, W.S. Rendra diberi nama julukan Burung Merak oleh media.

Di tahun 1969, W.S. Rendra membuat sebuah seri drama tanpa adanya dialog ketika actor menggunakan badannya dan suara-suara sederhana seperti bip bop, zzzzzz, dan rambate rate rata. Jurnalis puisi Goenawan Mohamad membubuhkan pertunjukkan pengalaman tersebut sebagai mini-word theater. Selama tahun 1970an, the Regional Secretary sering dilarang karena mereka terang-terangan mengkritisi program pengembangan Suharto yang sering mengasingkan orang-orang asli dan cenderung ke sisi perusahaan multinasional.

W.S. Rendra mempertunjukkan Shakespeare, Brecht dan karya-karya kritikan social lainnya ditranslate ke pertunjukan Indonesia. Setelah belajar di American Academy of Dramatic Arts, New York, W.S. Rendra mendirikan Teater Bengkel di tahun 1967. W.S. Rendra membawa pengalamannya di barat menjadi teater tradisional Indonesia. Produksinya sangat inovatif dan mempengaruhi banyak macam artistic seni Indonesia saat ini.

Selama masa kejayaan orde baru, W.S. Rendra merupakan satu dari sedikit orang di Negara kita ini yang memiliki keberanian untuk mengekspresikan ketidaksetujuannya. Ketika novelis Pramoedya Ananta Toer dikembalikan dari penjara, Pramoedya mengatakan W.S. Rendra adalah satu orang yang memiliki keberanian untuk melawan kekuatan Suharto, dibawah namanya sendiri. Jika kamu tidak bisa menghormati itu, kamu sebaiknya mempelajarinya.

Selama masa Suharto, W.S. Rendra tinggal untuk waktu yang lama di daerah miskin di Jakarta, dimana banyak seniman dari seluruh dunia mengunjunginya disana (termasuk Gűnter Grass). Di tahun 1979, selama pembacaan puisi di pusat kesenian Ismai Marzuki di Jakarta, tentara militer Suharto melemparkan bom ammonia di atas panggung dan menangkap W.S. Rendra. W.S. Rendra dipenjara selama sembilan bulan.

W.S. Rendra melanjutkan untuk membuat banyak proyek kesusastraan dan kebudayaan. Di tahun 2003, dikenal secara mendunia sebagai pembaca puisi terbaik, W.S. Rendra membawakan festival puisi internasional pertama di Indonesia. W.S. Rendra berulang kali masuk ke dalam daftar kandidat untuk Nobel Prize for Literature meskipun belum mendapatkannya. W.S.

Rendra pernah mendapatkan penghargaan SEA Write Award di tahun 1996 serta penghargaan-penghargaan lainnya. Sampai W.S. Rendra meninggal, dia terus bekerja dalam buku, sastra dan berbagai proyek serta produksi bahkan sebagai seorang actor film.

Baca juga : Biografi Chairil Anwar, Sastrawan Indonesia

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *