Boti Dan Keunikan Suku Asli Dari Wilayah Timor Di Indonesia

Desa adat Boti berlokasi di wilayah bagian Timor Tengah Selatan yang memiliki tradisi sangat unik dan eksotis dalam hal struktur bangunan rumah adat, kain sebagai busana adat, makanan khas olahan penduduk setempat.

Dan panorama alam yang sangat memukau seperti pemandangan alam di Hawaii merupakan habitat hidup dari suku Boti dimana untuk mencapai lokasi desa haruslah ditempuh denganperjalanan yang cukup jauh dan menyita cukup banyak tenaga karena aksesnya adalah jalan – jalan tikus yang sebagian besar kondisinya rusak berat.

p 136

Desa Boti merupakan desa adat yang hingga saat ini masih memegang teguh adat istiadatnya serta kukuh menjaga cara hidup yang persis sama seperti leluhur mereka pada jaman dulu layaknya suku – suku sejenis di desa lainnya.

Sebenarnya sangat mudah menuju ke desa adat Boti, dimana jarak yang sebenarnya adalah tidak begitu jauh dengan jarak antara So’e, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan atau yang sering disingkat dengan istilah TTS, dan desa Boti yaitu sekitar 45 km saja.

Hanya saja, karena kondisi jalan yang akan dilalui sangat parah maka anda harus rela terombang – ambing selama kurang lebih 2,5 jam.

Tiba di perkampungan suku Boti, mereka adalah penduduk yang ramah tamah dan selalu terbuka dengan para tamu yang berkunjung ke desa mereka.

Tapi anda jangan kaget karena lelah dalam perjalanan yang cukup panjang bukannya disuguhi minuman dingin seperti jus jeruk untuk menghilangkan dahaga tapi masing – masing dari anda akan diajak nyirih pinang.

Tamu yang berkunjung ke desa ini untuk berbagai keperluan biasanya memiliki tempat menginap tersendiri di dalam rumah tuan rumah berupa kamar yang dilengkapi dengan kamar mandi dalam.

Dan pada malam hari mereka akan dijamu dengan santap malam berupa masakan suku Boti yang cenderung berasa asing di lidah karena mereka jarang memasak memakai garam dan minyak goreng untuk menggoreng.

Semua serba direbus atau dibakar. Bagi tamu turis asing, mereka diberi suguhan bernama Se’i yaitu daging asap khas NTT yang dimakan bersama dengan minuman Moke Putih atau Moke Hitam ( minuman nira dari pohon lontar atau pohon enau ), sajian lainnya adalah bubur jagung yang dikenal dengan nama Jagung Bose, Nasi Bambu atau Kolo atau Jagung Caternang.

Suku Boti sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak suku yang ada dalam lingkungan kerajaan TTS, terdiri dari 3 suku paling populer yang dulu pernah menguasai TTS yaitu  Amanatun, Amanuban dan Molo, tapi pemimpin di Boti bukanlah raja, melainkan kepala suku.

Suasana kampung – kampung di desa Boti sangatlah asri. Jalan – jalan setapak dibuat sedemikian rapi dengan susunan batu – batu besar dan kecil di atasnya.

Rumah – rumah warga berdinding tanah dan beratap ilalang mencerminkan struktur bangunan berlatarbelakang arsitektur unik khas suku Boti yang mampu menarik minat turis mancanegara untuk berkunjung ke desa ini.

Jika hari sudah menjelang malam, para tamu akan kumpul di ruang tamu yang berukuran cukup luas hanya beralaskan tikar dan di desa ini masih jarang warganya memasang lampu listrik sehingga tidak ada TV atau radio untuk menghibur para tamu yang berkunjung.

Acara malam biasanya dilalui dengan kumpul – kumpul bersama tuan rumah sambil bercerita dan menunggu acara makan malam tiba dengan menu yang sama mereka nikmati ketika siang hari hanya saja kali ini mereka disuguhkan teh atau kopi panas dan pisang goreng atau kacang tanah goreng sebagai sajian penutup.

Bermalam di rumah bebak suku Boti ternyata sangat tidak nyaman karena cuaca sangat dingin dimana ada celah – celah dari jendela kamar tempat udara malam di luar rumah bebas keluar masuk kamar.

Kampung Boti pada malam hari cukup dingin, apalagi selama musim kering atau kemarau sekitar Juli – Agustus. Anda wajib membawa baju hangat dan kaos kaki untuk jaga – jaga agar tidak kedinginan sehingga tidur anda di malam hari menjadi nyaman.

Paginya, anda diwajibkan sarapan dulu dengan secangkir kopi panas dan pisang goreng atau ubi bakar, selanjutnya anda akan diajak jalan – jalan melihat proses pengolahan kapas hingga menjadi selembar kain tenun yang eksotik untuk dipakai oleh – oleh saat anda kembali ke tempat asal.

Suku Boti adalah petani kapas, mereka sudah bisa hidup mandiri dengan memenuhi semua kebutuhan hidup dari berkebun kapas, lalu memproduksi sendiri kapas – kapas tersebut hingga menjadi kain tenun khas Boti yang dijual kepada koperasi – koperasi setempat untuk disalurkan keluar desa untuk berbagai keperluan.

Baca Artikel Lainnya :

Hasil dari berjualan tersebut mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga seperti pangan, papan dan sandang. Mata pencaharian lainnya adalah bertani dan beternak.

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *