Cara Budidaya Jamur Tiram

Cara Budidaya Jamur Tiram – Apakah anda merasa tertarik untuk Budidaya Jamur Tiram dalam skala besar ?

Cara Budidaya Jamur Tiram

Cara Budidaya Jamur Tiram

Saat ini pada beberapa kota – kota besar ada beberapa orang yang tergiur dengan prospek cerah menekuni bisnis ini, namun kebanyakan dari mereka masih melakukannya dengan hanya bantuan dari alat – alat dan tempat seadanya saja di rumah.

Nah asalkan tekun dan ulet saja menekuni bisnis ini maka dapat menjadi lahan uang yang bagus untuk anda dan keluarga di rumah.

Jenis – Jenis Dari Jamur Tiram 

Di bawah ini kami berikan beberapa daftar dari Jamur Tiram yang dengan mudah bisa dikembangkan bagi pemula, antara lain :

  1. Djamor mempunyai ciri khas daging berwarna ungu kemerahan.
  2. Pulmonarius yang mempunyai ciri khas daging berwarna putih keabu – abuan.
  3. Sajor Caju yang mempunyai ciri khas daging warna kelabu.
  4. Pleurotus Floridae yang mempunyai ciri khas daging berwarna putih bersih.
  5. Eryngii yang mempunyai ciri khas daging berwarna kebiruan.
  6. Euosmus yang mempunyai ciri khas daging berwarna kecokelatan.
  7. Flabellatus yang mempunyai ciri khas warna daging merah jambu.
  8. Ostreatus mempunyai ciri khas daging berwarna putih kekuningan.
  9. Cystidious yang mempunyai ciri khas daging berwarna putih kemerahan.
  10. Citrinopileatus yang mempunyai ciri khas daging berwarna kuning keemasan.

Berikut ini adalah cara budidaya Jamur Tiram mulai dari tahap awal hingga proses akhir dan ketika memasuki usia / masa panen adalah sebagai berikut :

1. Proses Fermentasi

Jika media tanam sudah selesai anda buat maka langkah selanjutnya adalah menunggu proses fermentasi selama rata – rata 5 s/d 10 hari. Dalam proses ini anda tidak perlu melakukan apapun kecuali menunggu. Hal ini memiliki tujuan agar memudahkan terjadinya proses pelapukan atau pengomposan pada media tanam.

Selama masa / proses fermentasi, suhu pada media tanam akan mengalami peningkatan drastis hingga mencapai ukuran 70 derajat Celcius. Lakukan setiap hari proses pembalikan terhadap media tanam guna meratakan proses pelapukan.

Jangan lupa untuk melakukan pengontrolan terhadap proses fermentasi setiap hari. Saat warna media tanam sudah mulai berubah menjadi cokelat kehitaman maka media tanam sudah siap untuk dimanfaatkan.

2. Proses Sterilisasi

Setelah tahap awal selesai yaitu proses fermentasi, langkah selanjutnya adalah memasukkan media tanam ke dalam kantong plastik jenis ‘Polipropilen’. Lalu media tanam dipadatkan sehingga membentuk seperti botol.

Bagian atas plastik yang disebut dengan istilah leher kantong plastik diberi ring, disumbat dengan memakai kapas bersih untuk selanjutnya diberi penutup ‘baglog’ sehingga tidak kemasukan air ke dalamnya.

Jika anda sudah mempersiapkan baglog, maka proses sterilisasi bisa dimulai dengan cara mengukusnya. Gunakan drum sebagai salah satu media, dimana proses ini lebih banyak memanfaatkan panas uap air yang memiliki suhu rata – rata antara 95 s/d 110 derajat Celcius dalam jangka waktu 8 s/d 10 jam.

Perhatikan lebih teliti yaitu kestabilan api tungku, hindari jangan terlalu panas apalagi sampai mati karena kelalaian. Nah selanjutnya adalah wadah dari pengukus dibuka lalu didiamkan sekitar 5 jam agar suhu dari baglog dan media tanam dalam kondisi normal kembali.

3. Proses Inokulasi

Baglog yang sudah dalam kondisi ‘disterilisasi’ selanjutnya dipindah ke ruang khusus bernama ruang ‘inokulasi’ untuk didiamkan atau disimpan seharian penuh guna mengembalikan baglog ke dalam suhu normal. Karena biasanya dalam kondisi seperti ini bisa saja suhu permukaan dalam kondisi normal namun di dalamnya udara masih agak panas. Ruang inokulasi harus selalu bersih dan steril serta mempunyai sirkulasi udara yang sempurna guna memperlancar fungsi dari proses inokulasi yaitu untuk meminimalisir baglog terhadap ‘spora pathogen’ atau bakteri – bakteri lainnya.

4. Proses Inkubasi

Proses inkubasi atau pemeraman dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah pertumbuhan miselium. Dimana diketahui bahwa ruang inkubasi rata – rata memiliki suhu sekitar 24 hingga 29 derajat Celcius dengan tingkat kelembaban antara 90 s/d 100 %, cahaya antara 500 s/d 1000 ‘lux’ dan perputaran sirkulasi udara sekitar 1 s/d 2 jam.

Proses inkubasi berlangsung antara 15 s/d 30 hari tergantung dari kebutuhan dan kondisi dari bibit – bibit Jamur Tiram tersebut. Pada masa – masa ini misellium seharusnya sudah tumbuh sekitar separuh bagian baglog.

Jika misellium sudah terlihat memenuhi baglog maka pertanda bahwa baglog sudah siap untuk dipindahkan ke rumah kumbung untuk melakukan proses budidaya Jamur Tiram. Proses inkubasi dianggap sukses jika misellium tumbuh dengan subur.

5. Menyiapkan Rumah Kumbung

Siapkan baglog untuk selanjutnya anda pindahkan ke ruang dari ‘rumah kumbung’ dalam kondisi sudah dipenuhi oleh ‘misellium’.

Anda tinggal melubangi ujung baglog dengan memakai peralatan yang serba steril, contohnya adalah kawat atau silet yang sebelumnya sudah disiapkan dengan cara dipanaskan guna memudahkan dalam melubangi baglog.

Lubang – lubang ini berfungsi sebagai media / tempat Jamur Tiram tumbuh dan berkembang menjadi Jamur Tiram dewasa siap panen. Pilihlah bibit Jamur Tiram dari jenis F4, dimana anda bisa secara langsung menempatkan bibit – bibit tersebut di dalam masing – masing ruang dari rumah kumbung.

Pada umumnya buah jamur akan mulai tumbuh kembang dan terlihat jelas ketika memasuki umur rata – rata 1 s/d 2 bulan dari saat pertama kali penempatan baglog ke rumah kumbung.

Demikian kami menjelaskan dengan singkat tentang cara budidaya Jamur Tiram, semoga bermanfaat !

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *