Cara Pengolahan Biji Kakao Usai Pasca Panen

bjikCara Pengolahan Biji Kakao Usai Pasca Panen – Kakao merupakan salah satu tanaman yang tumbuh subur di Indonesia, utamanya di pulau Jawa. Tanaman tahunan atau parennial ini memiliki batang pohon yang bisa mencapai ketinggian hingga 10 meter. Namun dalam fakta budidayanya sering ditemui pohon kakao yang memiliki tinggi tak lebih dari 5 meter.

Buah kakao merupakan asal muasal terbentuknya berbagai macam olahan coklat yang sering kita konsumsi sehari-hari. Ya, mulai dari susu coklat, bubuk coklat, hingga coklat batangan yang kerap kita makan sehari-hari itu pada awalnya terbuat dari bahan biji coklat yang telah diolah sedemikian rupa.

Ada beberapa tahap yang bisa dilakukan dalam pengolahan biji kakao setelah dipanen, untuk menciptakan sebuah produk coklat yang berkualitas. Sekedar informasi bahwa saat setelah dipanen, biji kakao harus langsung diolah agar kualitas yang dihasilkan tidak menurun akibat terlalu lama didiamkan. Berikut beberapa tahap pengolahan biji kakao pasca panen.

1. Fermentasi

Saat setelah dipanen, biji kakao harus langsung difermentasi. Fermentasi dilakukan untuk menghilangkan lendir yang menempel pada kulit biji kakao. Jika kulit biji kakao tersebut berlendir, maka akan mengurangi aroma dan citarasa kakao saat disangrai. Selain itu fermentasi juga dilakukan untuk menghilangkan jamur yang menempel pada biji kakao.

Cara fermentasi cukup mudah, tinggal masukkan biji kakao ke dalam kotak kayu yang sudah diberi lubang kecil-kecil di bagian bawahnya. Lubang kira-kira berdiameter 1 cm. Fungsinya sebagai jalan masuk oksigen, air, dan karbondioksida.

2. Pencucian

Setelah difermentasi, selanjutnya biji kakao dicuci dengan menggunakan air bersih. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kotoran seperti jamur yang menempel, serta dapat membuat biji kakao nampak lebih bagus dan mengkilap.

Pencucian biji kakao ini dapat dilakukan dengan cara menggosok-gosok biji kakao atau mengaduk-aduknya dengan bantuan ayakan hingga biji nampak bersih.

3. Pengeringan

Setelah semua biji kakao dibersihkan, selanjutnya masuk ke tahap pengeringan. Dalam tahap ini biji kakao yang pada awalnya memiliki kadar air sekitar 60 %, harus diturunkan menjadi 6 hingga 7 %. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kualitas biji kakao baik pada saat proses penyimpanan maupun pengangkutan.

Pengeringan biji kakao bisa dilakukan dengan bantuan sinar matahari ataupun mesin pengering (dryer). Cara termurah dan termudah adalah dengan menggunakan bantuan sinar matahari. Biji kakao dijemur di bawah terik matahari hingga kering.

Saat mengeringkan biji kakao, harus dibolak-balik minimal 2 jam sekali agar kering sempurna. Cara ini pada umumnya memakan waktu yang lebih lama dibanding dengan menggunakan bantuan mesin pengering.

4. Tempering

Sebelum biji kakao dikemas, terlebih dahulu harus melewati satu tahap yang bernama tempering. Tempering ini dilakukan untuk menjaga kualitas biji kakao dari kerusakan pasca pengolahan dan pengemasan. Tempering dilakukan dengan cara meletakkan biji di tempat terbuka selama kurang lebih 5 jam guna penyesuaian suhu biji kakao dengan suhu yang ada di sekitar.

5. Pengemasan

Setelah melewati berbagai macam tahap di tadi, selanjutnya biji kakao bisa langsung disortir dan dikemas ke dalam wadah. Biasanya penyortiran biji kakao didasarkan pada ukuran dan warnanya. Ada yang kaulitas ekspor, kualias biasa, dan kualitas rendah. Dari ketiga kualitas tersebut masing-masing memiliki harga jual yang berbeda-beda.

Setelah melalui tahap penyortiran, biasanya biji kakao langsung di kemas ke dalam karung goni dan disimpan atau langsung dipasarkan ke berbagai daerah.

Baca Artikel Lainnya :

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *