Dampak Revolusi Hijau Pada Masa Orde Baru

Dampak Revolusi Hijau Pada Masa Orde Baru – Revolusi Hijau merupakan sebuah istilah yang tidak resmi dan digunakan untuk menjelaskan perubahan fundamental dalam penggunaan teknologi budidaya pertanian.

Hasil nyata dari Revolusi Hijau ini adalah tercapainya kecukupan penyediaan atau swasembada sejumlah bahan pangan di negara-negara yang sebelumnya dikenal selalu kekuragan persediaan bahan makan, sebut saja India, Tiongkok, Thailand, Vietnam, dan tak terlepas juga Indonesia.

Untitled

Revolusi Hijau awalnya dikembangkan oleh Ford and Rockefeller Foundation. Di Indonesia sendiri, Revolusi Hijau dikenal sebagai sebuah gerakan Bimbingan Masyarakat atau Bimas yang merupakan program nasional dengan tujuan meningkatkan produksi pangan – pada waktu itu khususunya adalah swasembada beras.

Gerakan Bimas ini memiliki tiga komponen pokok yang berperan sebagai inti yaitu (1) Panca Usaha Tani, (2) penerapan kebijakan harga sarana dan hasil reproduksi, dan (3) dukungan kredit dan infrastruktur.

Konsep Panca Usaha Tani sendiri memiliki formulasi sebagai berikut:

  1. Pemilihan serta penggunaan varitas unggul;
  2. Pemupukan yang dilakukan secara teratur;
  3. Irigasi yang cukup;
  4. Pemberantasan hama yang dilakukan secara intensif; dan
  5. Teknik penanaman yang dilakukan secara lebih teratur.

Gerakan ini baru dijalankan pada rezim Orde Baru. Namun kenyataannya gerakan ini tidak cukup bisa mengantarkan Indonesia sebagai sebuah negara yang dapat swasembada pangan (khususnya beras) secara tetap.

Keadaan swasembada ini hanya bertahan selama lima tahun. Gerakan Revolusi Hijau juga dikenal sebagai penyebab kesenjangan ekonomi dan sosial pedesaan karena pada faktanya gerakan ini cenderung menguntungkan petani kaya di pedesaan.

Beberapa dampak negatif dari kemunculan Gerakan Revolusi Hijau ini khususnya menimpa para petani Indonesia, dampak tersebut antara lain:

  1. Adanya perubahan sistem bagi hasil. Sistem upah mulai menggeser sistem panen bersama yang sebelumnya berlaku. Pembeli mampu memborong seluruh hasil panen dengan hanya menggunakan sedikit orang atau tenaga kerja. Akibat yang ditimbulkan adalah kesempatan kerja di lingkup pedesaan semakin hari semakin berkurang.
  2. Ekonomi uang menjadi pengaruh yang cukup besar dan kuat dalam berbagai hubungan sosiall di lingkup pedesaan.
  3. Biaya produksi yang ditanggung petani menjadi semakin tinggi karena ketergantungan terhadap pupuk kimia dan zat kimia untuk membasmi hama.
  4. Pendapatan petani tidak tumbuh seperti peningkatan produksi pangan. Penggunaan teknologi modern ini hanya dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh para petani kaya.
  5. Produksi protein menjadi turun akibat pengembangan serealia dan tidak diimbangi dengan adanya pengembangan pangan sebagai sumber protein. Lahan peternakan pun disulap menjadi sawah.
  6. Keanekaragaman hayati menjadi turun.
  7. Hama menjadi lebih resisten dengan penggunaan pestisida.

Meski terbilang cukup banyak menimbulkan dampak negatif, ada hal yang bisa dipelajari dari diterapkannya Gerakan Revolusi Hijau.

Baca Artikel Lainnya :

Penerapan gerakan ini memicu peningkatan produksi padi dan gandum yang dapat memenuhi kebutuhan pangan khususnya sebagai sumber karbohidrat.

Indonesia pernah menjadi negara swasembada beras hingga bisa mengekspor hasil pertaniannya ke India. Hal tersebut dikenal sebagai salah satu prestasi yang membanggakan dari Indonesia.

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *