Demam Akik, Bagus untuk Ekonomi Namun Buruk Bagi Lingkungan

Demam Akik, Bagus untuk Ekonomi Namun Buruk Bagi LingkunganBatu akik, siapa yang tidak tahu mengenainya? Bebatuan mulia ini sekarang banyak dicari orang setelah masyarakat mengetahui ada pasar menguntungkan di dalamnya. Bahkan Anda mungkin juga satu di antaranya? Batu giok, opal, bacan, dan berjenis-jenis batu lain ditemukan dalam kuantitas banyak di Indonesia. Tidak hanya kuantitas, kualitas batu yang ada tinggi. Namun semakin maraknya demam batu ini, timbul pula kegelisahan lain, yaitu dampaknya kepada lingkungan.

a

Pertambangan berlebihan

Hal yang mencemaskan adalah ketika masyarakat ramai-ramai mencarinya dengan penambangan liar, terutama di daerah mempunyai kandungan batu alam tinggi. Ada banyak sekali potensi kerusakan yang bisa terjadi, dan memang sudah terjadi di sekitar kawasan tersebut. Di daerah Wonogiri yang menghasilkan batu Fire Opal, misalnya, penambangan liar tersebut bahkan memasuki kawasan hutan lindung Perhutani.

Bahaya bagi lingkungan dan manusia

Penambangan bebatuan secara besar-besaran ini mempunyai banyak dampak buruk bagi lingkungan. Beberapa hal yang bisa terjadi adalah:

  • Terjadinya longsor, lantaran penggalian tidak bertanggung jawab. Banyak lubang dan terowongan di tanah akan membuatnya berongga dan cepat
  • Penambangan yang tidak menutup lubang, mengakibatkan erosi ketika hujan. Akibatnya terjadilah pendangkalan, dan ujung-ujungnya banjir.
  • Penambang liar masuk ke kawasan hutan lindung, mengganggu ekosistem ada di dalamnya, termasuk satwa dan flora di hutan lindung.

Hal ini belum lagi menghitung resiko yang terjadi kepada para penambang itu sendiri, seperti jatuh ke jurang atau tertimpa batu. Sudah banyak cerita yang muncul tentang penambang yang terperosok masuk ke dalam terowongan yang dibuat, atau tertimpa batu mulia yang sedang digalinya.

Terjadi di banyak tempat di Indonesia

Hal ini sangat tampak terjadi di berbagai daerah di Indonesia, terutama daerah yang terkenal dengan produksi batu mulia yang banyak diburu. Berikut contohnya:

  • Penggalian batu di daerah Wonogiri, yang merangsek hingga ke kawasan Resort Pemangkuan Hutan Pesindo milik Perhutani.
  • Pertambangan di daerah Kismantoro yang merupakan kawasan pohon jati, di mana para penggali meninggalkan lubang begitu saja.
  • Seorang penambang di Dusun Cot Sala di Aceh yang tewas tertimpa batu giok dengan berat 2 ton yang sedang ditambangnya.
  • Bencana longsor dan banjir di Aceh yang terjadi karena banyaknya aktivitas pertambangan giok yang mengakibatkan tanah erosi.

Perlu ikuti aturan

Mencari peruntungan dari menjual batu-batu alam memang tidak salah, dan merupakan mata pencaharian yang sah. Namun hal ini menjadi masalah ketika Anda juga mengabaikan batas-batas yang ada dan mengguncang ekosistem. Bagaimana pun juga di dalam UU No.32 Tahun 1999 ada pasal mengenai Perlindungaan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Anda dan para pencari batu lain tidak bisa seenaknya saja menambang tanpa mengindahkan peraturan yang ada, karena pada akhirnya, yang menanggung akibatnya adalah Anda sendiri.

Baca Artikel Lainnya :

Loading...

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *