Hukum dan ciri riya’

Hukum dan ciri riya’ – Tidak terasa bulan puasa yang dinantikan oleh umat Muslim sebentar lagi akan tiba.

Tentunya semua umat Muslim berharap agar amal dan ibadahnya diterima, terutama karena bulan puasa merupakan bulan yang suci.

Agar amal dan ibadah diterima oleh Allah syarat yang utama adalah menjalankan ibadah serta perbuatan-perbuatan baik dengan rasa ikhlas.

Amal dan ibadah tentunya akan menjadi sia-sia jika kita melakukannya karena keinginan untuk dipuji atau untuk pamer ke orang lain. Sifat senang memamerkan ini sering disebut dengan riya’ dalam agama Islam.
Lebih lanjut, riya’ dapat diartikan sebagai perbuatan dosa dan merupakan sifat dari orang-orang munafik.

Dalam bahasa Arab, arriya’ (الرياء) berasal dari kata kerja raâ ( راءى) yang artinya memperlihatkan. Secara etimologis, maka riya’ adalah perbuatan yang memperlihatkan serta memperbagus suatu amal ibadah dengan tujuan agar diperhatikan dan mendapatkan pujian dari orang lain.

Dalam hal ini, riya’ dilakukan bukan dengan niat untuk beribadah kepada Allah SWT. Riya’ merupakan sifat dan perilaku  bercela yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, sehingga harus dihindari karena menyebabkan dosa dan akan merugikan diri sendiri serta orang lain.

Menurut Sayyidina Ali, terdapat tiga ciri-ciri orang yang bersifat riya’, yaitu :

لِلْمُرَائِي ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ : يَكْسَـلُ إذَا كَانَ وَحْدَهُ، وَيَنْشَـطُ إذَا كَانَ فِي النَّاسِ، وَيَزِيدُ فِي الْعَمَلِ إذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَنْقُصُ إذَا ذُمَّ

Orang riya memiliki tiga ciri: malas ketika sendirian, rajin saat di tengah banyak orang, serta amalnya meningkat kala dipuji dan menurun kala dicaci.” (Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, dikutip dari Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam al-Ghazali). Rasulullah menyebut riya’ sebagai syirik kecil. Dikatakan syirik karena ia menyekutukan Allah dengan nafsu diri sendiri atau respon orang lain. Amal ibadah yang dianggap riya’ dilakukan dengan mempertimbangkan bagaimana respon orang lain atau untuk mendapatkan pandangan yang positif, bukan berasal dari ketulusan hati seseorang. Untuk itu, orang yang melakukan amal ibadah dengan sifat riya’ akan melakukan amal kebaikan dengan fluktuasi naik-turun tergantung dengan besar-kecilnya keuntungan penilaian dari manusia.

Rasullulah bersabda bahwa riya’ terbagi menjadi dua jenis, yaitu riya’ yang termasuk syirik akbar dan riya’ yang termasuk syirik asghar.

Pertama, riya yang termasuk syirik akbar merupakan suatu tindakan beramal yang dilakukan bukan karena Allah, melainkan karena ingin dipuji atau dianggap hebat oleh orang lain. Sifat riya’ ini dimiliki oleh orang-orang munafik.

Kedua, riya’ yang termasuk syirik asghar adalah tindakan amal ibadah yang dilakukan karena Allah, namun juga dilakukan karena hal lain. Riya’ jenis ini adalah syirik kecil karena niat amal ibadahnya tercampur, bukan sepenuhnya karena Allah dan orang-orang beriman sering terjerumus ke dalam sifat riya’ ini.

 Ada banyak kerugian yang akan ditimbulkan oleh sifat riya’, antara lain : (1) mendapatkan dosa dan menghalangi pahala, (2) menjadi tidak tenang serta mudah gelisah disaat tidak ada orang lain yang memuji, (3) menjadi takabur, (4) dibenci oleh banyak orang, (5) membatalkan amal sehingga amal yang diperbuat menjadi sia-sia, dan (6) mendapatkan azab di akhirat serta masuk neraka. Ciri-ciri sifat riya’ akan mudah terlihat dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang melakukan amal ibadah karena untuk dipuji oleh orang lain, ikut-ikutan, atau untuk dilihat oleh orang lain.

Riya’ merupakan perbuatan dosa yang dilakukan oleh orang-orang munafik sehingga perlu untuk dihindari, untuk itu terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan agar terhindar dari sifat riya’ diantaranya :

  1. Berdoa kepada Allah SWT agar dihindarkan dari sifat riya’.
  2. Menyadari bahwa sebaik-baiknya pujian adalah kebaikan dihadap Allah SWT.
  3. Menyadari bawah yang menentukan baik atau buruk, surga atau neraka, hanyalah Allah SWT.
  4. Jangan mudah terpengaruhi oleh orang lain.
  5. Menumbuhkan semangat beribadah dengan cara memandang kecil kepada amalan-amalan yang sering kita lakukan.
  6. Menumbuhkan rasa takut bahwasanya ibadah akan ditolak jika kita tidak beribadah dengan ikhlas kepada Allah SWT.
  7. Sebisa mungkin menyembunyikan segala macam bentuk ibadah serta amalan dari orang lain.
  8. Mengingatkan kepada diri sendiri bahwa hanya amal ibadah yang dilakukan dengan tulus pada semasa hidup yang akan menemani kita saat meninggal.

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *