Kaitan Stress Dengan Kesuburan Pria

Kaitan Stress Dengan Kesuburan Pria – Penelitian di masa lampau mengungkap hubungan stress dengan berbagai masalah kesehatan termasuk penyakit jantung, asma, obesitas dan depresi. Kini, sebuah studi juga menunjukkan bahwa stress dapat mengurangi kualitas sperma dan air mani. Ujungnya, hal ini bisa memberikan implikasi buruk terhadap kesuburan pria.

1

Menurut hasil penelitian American Society for Reproductive Medicine, pada sekitar 40% pasangan tak subur, partner pria adalah penyebab satu-satunya atau penyebab penyumbang ketidaksuburan terebut. Alasan utama dari ketidaksuburannya adalah abnormalitas sperma, termasuk produksi sperma yang terlalu rendah atau gangguan pada pergerakan sperma. Masalah kesehatan seperti gangguan ejakulasi bisa berujung pada abnormalitas sperma, bersama dengan faktor-faktor gaya hidup dan kesehatan lain.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Fertility and Sterility dan dipimpin oleh para ilmuwan di Columbia University’s Mailman School of Public Health di New York, NY, dan Rutgers School of Public Health di Piscataway, New Jersey, kelompok ilmuwan tersebut menginvestigasi apakah stress bisa mempengaruhi kualitas sperma dan air mani.

Untuk meraih kesimpulan itu, ilmuwan meneliti 193 pria yang berusia antara 38 hingga 49 tahun. Mereka diharuskan untuk melengkapi serangkaian tes yang mengukur tingkat stress, termasuk yang datang dari tempat kerja, peristiwa hidup menegangkan, serta keseluruhan stress yang dirasakan. Mereka juga diharuskan untuk memberikan contoh air mani. Lalu, menggunakan metode uji kesuburan standar, ilmuwan yang berasal dari University of California, Davis, menganalisa konsentrasi air mani serta bentuk sperma (morfologi) serta pergeraka sperma (motilitas) pada tiap-tiap sampe.

Hasilnya, para ilmuwan menemukan bahwa pria yang mengalami dua atau lebih peristiwa menegangkan dan membuat stress dalam hidup pada tahun terakhir memiliki motilitas serta morfologi sperma dengan persentase yang lebih rendah dibandingkan dengan pria lain yang tidak mengalami peristiwa yang membuat stress apa pun. Mereka juga mencatat bahwa temuan ini bertahan bahkan setelah para ilmuwan mengkalkulasi kemungkinan kontribusi faktor lain yang mempengaruhi kualitas sperma seperti usia, masalah kesehatan umum, serta sejarah masalah kesehatan reproduktif..

Walaupun stress karena pekerjaan tidak secara langsung mempengaruhi kualitas sperma pria, para ilmuwan juga menemukan bahwa mereka yang mengalami tekanan pada pekerjaan memiliki level hormon testosteron lebih rendah pada sperma mereka. Rendahnya hormon testosteron ini bisa jadi mempengaruhi kesehatan reproduksi pria. Selain itu, tidak peduli seberapa level stress yang dialamai, pria yang pengangguran memiliki kualitas sperma lebih rendah dibandingkan mereka yang bekerja.

Walaupun para ilmuwan belum bisa menemukan penyebab pasti mengapa stress mempengaruhi kualitas sperma, beberapa teori diungkapkan terkait ini. Menurut mereka, stress bisa mengaktifkan peluncuran glukokortikoid- sejenis hormon steroid yang mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Hormon tersebut mengurangi level testosteron dan produksi sperma.

Lebih jauh, ilmuwan juga menyatakan bahwa stress bisa memicu stress oksidatif- sebuah stress psikologis pada tubuh yang disebabkan oleh kerusakan oleh radikal bebas. Hal ini telah lama dikaitkan dengan kualitas sperma dan kesuburan.

Mengomentari hal itu, salah satu penulis studi yang bernama Teresa Janevic, PhD yang merupakan seorang asisten profesor pada Rutgers School of Public Health, berkata, “Stress telah lama diidentifikasikan sebagai faktor yang memiliki pengaruh buruk pada kesehatan. Hasil penelitian kami mengindikasikan bahwa kesehatan reproduksi pria juga bisa jadi dipengaruhi oleh lingkungan sosial mereka.”

Para ilmuwan mencatat bahwa ini adalah studi pertama yang menggunakan ukuran subyektif dan obyektif untuk mengukur stress dan sebagai hasilnya, menemukan kaitan antara stress dengan kualitas air mani. Memang, ketidaksuburan saat ini bukan hanya masalah wanita, perlu adanya lebih banyak kesadaran mengenai infertilitas pada kaum lelaki.

Baca Juga :

Loading...

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *