Kisah Kehidupan Suku Badui Di Padang Pasir

Kisah Kehidupan Suku Badui Di Padang Pasir – Dewasa ini budaya kemah telah menjamur dimana – mana di seluruh dunia. Banyak yang menggemarinya terutama anak – anak muda yang memiliki jiwa petualang.

Kemah selalu identik dengan tidur ala kadarnya atau seadanya di lokasi-lokasi terbuka. Beberapa orang beranggapan bahwa berlibur ala pecinta alam ini merupakan liburan yang merepotkan dan membutuhkan stamina tubuh yang kuat dan pikiran jernih.

rusia

Padahal yang sebenarnya, berkemah atau camping saat ini bisa dinikmati melalui fasilitas resort bintang lima, atau dikenal dengan istilah glamping dari kata glamorous camping.

Dengan ikut serta dalam glamping, anda tidak perlu khawatir akan kecelakaan tak terduga selama melakukan kemah di tempat-tempat yang berbahaya, di samping itu, anda bisa bersentuhan langsung dengan pesona alam pegunungan sekaligus bisa menikmati liburan dengan memakai fasilitas mewah yang aman dan nyaman.

Erat hubungannya dengan penjelasan kami tersebut di atas, budaya kemah sudah dikenal orang sejak jaman dulu di negara-negara yang bergurun pasir termasuk di Indonesia.

Di pegunungan Kendeng, desa Kanekes, kabupaten Lebak, Banten, hiduplah suku Badui merupakan sub-etnis suku Sunda yang hidup berdampingan dengan alam sejak dulu kala, dimana mereka lebih suka memilih untuk hidup berdampingan dan tergantung pada alam sehingga menjadikan suku Badui terisolasi dari kehidupan moderen seperti masyarakat suku Badui tidak pernah mengirimkan anak-anaknya ke sekolah untuk belajar seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat dari suku lain.

Suku Badui merupakan penduduk nomaden yang pertama kali menghuni kawasan padang pasir di kabupaten Lebak, Banten.

Mereka menjalani hidup secara sederhana meskipun sulit, suku Badui kerap melakukan perjalanan panjang melintasi padang pasir bersama dengan sekawanan unta, kuda, biri-biri, sapi dan kambing, mereka mencari makanan ternak di pegunungan yang gersang, sedangkan para petani menanam pohon kurma di dekat oasis.

Alat transportasi utama yang dilakukan oleh suku Badui untuk melakukan perjalanan ke tempat-tempat lain yang erat hubungannya dengan keperluan perdagangan dan hal-hal lainnya adalah unta merupakan kendaraan padang pasir.

Unta – unta tersebut selain berfungsi sebagai kendaraan padang pasir, juga merupakan sumber terbesar penghasil susu, daging, dan wol yang berharga mahal di pasaran internasional.

Suku Badui tinggal di dalam tenda-tenda tradisional yang terbuat dari kulit dan bulu binatang sehingga menjadi tempat berlindung yang aman dan nyaman bagi keluarga suku Badui dari keganasan alam seperti panasnya sinar matahari di siang hari, hujan dan angin, atau gangguan binatang liar, mereka mengenakan pakaian ala kadarnya yang sangat sederhana namun serbaguna yaitu pakaian model panjang dan longgar serta penutup kepala seperti topi untuk memberikan perlindungan dari teriknya matahari gurun pasir dan hembusan pasir oleh angin yang sangat kuat.

Meneropong Suku Badui Dari Langit

Suku Badui dikenal memiliki dua kelompok besar yaitu masyarakat Badui Luar dan masyarakat Badui Dalam.

Keduanya memiliki adat dan budaya yang berbeda, suku Badui Luar memiliki kehidupan yang lebih luwes dan mau bergaul dengan masyarakat luas layaknya suku-suku lain yang ada di Indonesia.

Sedangkan suku Badui Dalam mempunyai peraturan ketat yang erat kaitannya dengan adat dalam masyarakat Badui Dalam sehingga memaksa mereka untuk tidak terkontaminasi dengan budaya luar dari suku-suku lain di Indonesia.

Hal inilah yang menjadi dasar mengapa aturan adat dalam masyarakat Badui Dalam melarang pengikutnya untuk menggunakan barang-barang elektronik yang mencerminkan budaya moderen.

Hal lainnya yang tabu untuk mereka lakukan adalah memilih hidup tanpa listrik, tanpa alas kaki, dan tetap berjalan kaki.

Mata pencaharian utama masyarakat suku Badui adalah bertani dan berladang. Sistem pertanian mereka tidak mengenal alat penggarap sawah pada umumnya dilakukan oleh para petani tradisional, baik itu yang menggunakan mesin maupun memakai tenaga kerbau.

Penggunaan mesin erat kaitannya dengan teknologi moderen dan memang tidak diperbolehkan, sedangkan aturan adat mereka melarang masyarakat suku Badui memelihara dengan sengaja hewan- hewan berkaki empat.

Dewasa ini masyarakat suku Badui Dalam mulai membangun rumah-rumah mereka dengan menggunakan pondasi dari batu sungai yang sangat kokoh.

Tujuannya adalah untuk menjaga kelestarian alam, dimana dalam membangun rumah-rumah mereka dilakukan tanpa menggali tanah, sehingga dijumpai kontur tanah di pemukiman suku Badui Dalam masih bergelombang, alami, dan tidak mudah longsor.

Baca Artikel Lainnya :

Ketua adat suku Badui Luar dan Dalam bahkan yelah mengeluarkan peraturan baru untuk tujuan melestarikan dan agar bisa hidup berdampingan dengan alam yaitu melarang terjadinya jual – beli tanah milik adat.

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *