Kisah Sejarah Reog Ponorogo

Kesenian reog ponorogo merupakan cabang dari tarian tradisional reog yang dimulai kira-kira pada sekitar abad ke-15, lebih tepatnya lagi pada era kerajaan Majapahit yang terakhir, dimana tadinya adalah bentuk sindiran terhadap ketidakmampuan pemimpin Majapahit ketika itu Bhre Kertabhumi.

fu 70

Sejarah mengenai kesenian reog ponorogo yang berkembang di tengah masyarakat sebenarnya sama dengan cerita yang dipentaskan dalam tarian reog ponorogo sendiri. Berkisah ihwal seorang putri yang teramat cantik bernama Dewi Sanggalangit, yakni seorang putri raja yang amat tersohor di Kediri. Mengingat wajahnya yang amat mengagumkan, banyak pangeran beserta raja yang mendatanginya untuk dapat meminangnya.

Sayangnya, Dewi Sanggalangit belum tertarik untuk menikah, hingga pada akhirnya sang raja harus turun tangan dengan menanyakan sampai kapan Sanggalangit akan terus menolak pinangan yang datang. Sanggalangit hanya menjawab bahwa dirinya masih memiliki satu syarat yang belum diketahuinya, demi mengetahui syarat tersebutlah Sanggalangit akan melaksanakan semedi serta bertanya kepada ilahi agar bisa menerima jawaban terbaik.

Empat hari berlalu dan Sanggalangit kembali menghadap sang raja, memberi tahu persyaratan yang sudah dipikirkan olehnya dengan matang, yaitu calon suaminya harus bisa menciptakan sebuah tontonan menarik yang di dalamnya harus ada hewan dengan dua kepala dan kuda kembar dengan jumlah 140 ekor. Mendengar syarat yang diajukan, hampir semua calon peminang Dewi Sanggalangit menciut nyalinya, kecuali Singabarong yang berasal dari Kerajaan Lodaya beserta Kelanaswandana yang datang dari kerajaan Bandarangin.

Kelanaswandana bisa mengumpulkan semua persyaratan dari Sanggalangit kecuali hewan berkepala dua dan saat hendak mencari hewan tersebut, Kelanaswandana memerintahkan patihnya untuk menyelidiki Singabarong, alasannya sebab Singabarong dikenal sebagai raja yang tidak kenal ampun dan akan melakukan apapun agar bisa menang.

Benar saja, ternyata singabarong memang berniat untuk menyabotase Kelanaswandana. Kelanaswandana kemudian segera bergerak menuju Kerajaan Singabarong dan mengajaknya bertempur satu lawan satu.

Saat mereka beradu, Kelanaswandana segera mengeluarkan kesaktiannya sebelum Singabarong mendapat kesempatan melakukan sesuatu, hingga burung merak yang mematuki kepalanya menempel, membuat Singabarong menjadi berkepala dua. Mengamuk, singabarong menghunus kerisnya ke arah Kelanaswandana yang ternyata mampu di hindari dan dibalas dengan pecutan cambuk Samandiman.

Pecutan cambuk Samandiman yang sakti kemudian justru menjadikan Singabarong terpental dan menjelma menjadi seekor hewan berkepala dua, sekaligus membuat Kelanaswandana menjelma menjadi seseorang yang mampu memenuhi segala bentuk permintaan Sanggalangit.

Pada saat Kelanaswandana tiba di Wengker, seluruh penduduk Wengker bersorak sangat kegirangan melihat pertunjukan yang disuguhkan di hadapan mereka, terlebih dengan adanya hewan aneh berkepala dua.

Pernikahan antara Dewi Sanggalangit dan Kelanaswandana pun dilaksanakan, bahkan tidak pernah dilupakan sebagai catatan sejarah penting dari lahirnya kesenian reog ponorogo yang menjadi salah satu kesenian tradisional dari tanah Jawa. Lebih tepatnya dari kawasan Jawa Timur.

Baca Artikel Lainnya :

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *