Kondisi Sosial, Ekonomi, Politik, dan Budaya Kerajaan Kediri

Kerajaan Kediri berdiri di daerah Jawa Timur sekitar pada tahun 1042 hingga 1222. Kerajaan yang juga dikenal dengan nama Kadiri atau Panjaluini berpusat di kota Daha yang terletak di sekitar kota Kediri.

Dalam perkembangannya kerajaan yang terletak di Pulau Jawa ini memiliki perkembangan yang cukup pesat dalam hal politik, sosial, ekonomi, dan bahkan kebudayaan.

q 101

Pada masa kejayaannya, raja terbesar Kerajaan Kediri adalah aja Jaya baya yang memimpin pada tahun 1135 hingga 1157. Pada masa tersebut Jaya baya bertekad mengembalikan kejayaan Kerajaan Kediri seperti kejayaan pada masa Air langga.

Pada masa itu pula Panjalu dan Jenggala bersatu dan Kerajaan Kediri menggunakan symbol Garuda Mukha yang tak lain merupakan symbol Airlangga.

Selain berhasil mencapai kejayaan dalam bidang politik, dalam bidang kesastraan juga turut diperhatikan pada masa ini. Kedua empu besar di Kerajaan Kediri yakni Empu Sedah dan Empu Panuluh juga menuliskan kisah peperangan antara Pandawa dan Kurawa. Perang tersebut menggambarkan perangantar aJeng galadan Kediri.

Selain itu, lahir pula tokohJ aya baya yang dikenal mampu meramal dan tersohor sebagai seorang pujangga yang luar biasa. Raja terakhir yang memimpin Kediri adalah Kertajaya. Ia memimpin pada tahun 1222. Kehancuran Kerajaan Kediri didasari oleh perilaku Ken Arok.

Kerajaan yang terletak di Jawa Timur ini dikenal memiliki kehidupan perekonomian yang besar. Berbagai karya sastra menggambarkan bahwa kehidupan masyarakat pada masa ini sangat cemerlang dan hebat. Masyarakat di Kerajaan Kediri dikenal bermata pencaharian bertani, berternak, dan berdagang.

Bahkan Kediri dikenal sebagai salah satu penghasil beras di Indonesia pada masa itu. Selain menjual hasil pertaniannya, beberapa barang dari hasil bumi seperti emas, perak, gading, dan kayu cendana juga turut serta dalam komoditi yang diperjual belikan pada masa itu. Rakyat pada masa itu membayar pajak dengan palawija dan hasil bumi lainnya.

Untuk penerapan peraturan sendiri, Kerajaan Kediri menerapkan dua hukuman bagi rakyatnya yang melanggar peraturan. Pertama, hukum denda, para pelaku harus memberikan denda untuk membayar perbuatannya berupa emas dan yang kedua adalah hukum mati. Hukuman tersebut jatuh bagi pelaku pencurian dan perampokan.

Selain berjaya di bidang perdagangan, Kerajaan Kediri juga dikenal meninggalkan banyak peninggalan yang menggambarkan kemakmuran kerajaan pada era tersebut. Di bawah kepemimpinan Dharmawangsa, Kerajaan Kediri berhasil menerjemahkan kitab Mahabarata kedalam bahasa Jawa Kuno.

Baca Artikel Lainnya :

Sementara pada masa kekuasaan Airlangga, Empu Kanwa menyusun kitab Arjuna Wiwaha. Kitab Hari wangsa dan Gatot kacas raya juga ditulis oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh pada masa kekuasaan Jaya baya.

Sedangkan pada masa Kameswara, Kitab Smara dhahana berhasil dilahirkan oleh Empu Dharmaja. Selain itu ada pula Kitab Lubdaka dan Werasancaya yang dituliskan oleh Empu Tan Akung.

Loading...

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *