Menanjak Tanah Tertinggi Jawa Barat Gunung Ciremai

Menanjak Tanah Tertinggi Jawa Barat Gunung Ciremai –  Tahukah anda puncak gunung tertinggi di Jawa Barat? Bagi anda para pendaki tentu saja sudah tak asing bukan dengan gunung Ciremai ? Yaa. . .

1

Gunung yang termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) ini merupakan gunung tertinggi di tanah Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl,. Gunung ini secara administratif termasuk kedalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kuningan dan Majalengka.

 Terdapat 3 jalur yang dapat dilalui untuk menuju puncak Ciremai yaitu jalur Majalengka, Palutungan dan Linggarjati. dari ketiga jalur tsb Jalur Linggarjati merupakan jalur yang paling terjal dan terberat akan tetapi jalur ini pula yang menjadi favorit para pendaki untuk menggapai puncak Ciremai karena dirasa lebih menantang.

Cukup mudah untuk menuju Base Camp Linggarjati. Jika Anda dari arah Jabodetabek dan menggunakan transportasi umum anda tinggal naik bis jurusan Cirebon kemudian turun di pertigaan Linggarjati. Dari peertigaan ini anda dapat menyewa angkot menuju pos perijinan pendakian sekitar 10 menit perjalanan saja. Dalam perjalanan menuju basecamp anda akan melewati Museum Naskah Linggarjati yang merupakan tempat bersejarah dimana Presiden Pertama RI, Bung Karno pernah menandatangani perjanjian Linggarjati dengan Belanda.

Setelah sampai di base camp anda bisa istirahat sebentar sembari mengurus perijinan. Basecamp Linggarjati terletak di ketinggian 650 mdpl sehingga suasana di tempat ini masih panas tidak seperti dibasecamp gunung lain yang rata-rata sudah berada pada ketinggian diatas 1000 mdpl.

Sebelum mulia mendaki disarankan menyiapkan bekal terutama air, karena selama di perjalanan akan susah sekali mendapatkan air. Jalur menuju puncak sangat jelas karena banyak terdapat tanda-tanda penunjuk jalan yang memudahkan para pendaki.

Dari basecamp menuju pos pertama medan masih berupa jalanan beraspal diselimuti hutan Pinus dan persawahan hingga di Pos Mata Air Cibeunar. Cibeunar merupakan area camp yang cukup aman karena terdapat sumber air yang cukup melimpah, yang tidak dapat ditemui lagi di sepanjang perjalanan menuju puncak.

Selepas Cibeunar perjalanan akan didominasi dengan perkebunan penduduk hingga sampai di Leuweng Datar. Dari Leuweng Datar anda akan melewati beberapa pos dan jika anda ingin istirahat dan mendirikan tenda anda dapat laukan di Kuburan Kuda karena pos ini merupakan tanah datar yang cukup luas dan teduh untuk perkemahan.

Jalanan akan membesar setelah melewati Tanjakan Bin-Bin tetapi semakin menanjak lagi ketika melalui Tanjakan Seruni. Jalur ini merupakan medan yang terberat dan cukup melelahkan daripada yang lainnya karena disini pendaki akan menemui jalan setapak yang terputus dan setengah memanjat sehingga mau tidak mau kita harus berpegangan pada akar pepohonan untuk melaluinya.

Medan seperti tadi tidak akan berubah sampai di Tanjakan Bapatere hingga Batu Lingga yang nyaris tanpa bonus. Batu Lingga adalah pos peristirahatan berupa tanah datar yang tidak terlalu besar dan terdapat sebuah batu berukuran besar. lepas dari Batu Lingga pendaki akan menemui dua pos peristirahatan yang lain yaitu Kiara Baton dan Sangga Buana. Dari sini pendaki baru akan memasuki batas vegetasi sampai di Pos Pangasinan.

Pangasinan adalah daerah yang cukup terbuka dan merupakan pos terakhir yang cukup dekat dengan puncak .Dari sini pendaki dapat menyaksikan pemandangan bibir kawah yang cukup menakjubkan. Diperlukan waktu satu jam dengan melewati bebatuan cadas dan medan yang tetap menanjak, bahkan harus setengah merayap, untuk sampai di puncak.

Untuk menggapai puncak tertinggi Gunung Ciremai, pendaki akan lebih dahulu melewati puncak tertinggi kedua – Sunan Mataram (3.058 mdpl) yang ditandai dengan batu trianggulasi. Dari Tranggulasi Sunan Mataram, untuk mencapai puncak tertinggi Ciremai, pendaki harus mengelilingi kawah hingga bertemu dengan Trianggulasi lagi yang sudah roboh yang biasa dinamai Sunan Cirebon, itulah puncak tertinggi Gunung Ciremai.

Baca Juga :

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *