Mengapa Balita Jauh Lebih Mudah Terkena Batuk Rejan?

Batuk merupakan penyakit yang dapat diderita oleh semua usia, dari bayi dan balita hingga remaja, dewasa bahkan orang tua. Namun, tahukah Anda bahwa ada salah satu jenis batuk yang lebih mudah dialami oleh balita? Batuk tersebut dikenal dengan nama batuk rejan.

Batuk rejan atau yang lebih dikenal dengan ‘pertusis’ atau batuk 100 hari merupakan jenis batuk menular yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusis. Ketika penderita batuk ini sedang batuk maka seluruh kuman akan menyebar ke seluruh ruangan. Inilah mengapa batuk ini merupakan batuk yang menular.

l 33

Meski bisa diderita oleh semua kelompok usia, namun balita jauh lebih mudah terkena penyakit ini. Mengingat sistem kekebalan tubuh pada balita masih belum cukup kuat sehingga rentan terhadap berbagai infeksi kuman penyakit, maka kalau sudah terinfeksi oleh bakteri Bordetella pertusis, akan sulit bagi sistem imun balita untuk mengatasinya.

Jika batuk biasa bisa sembuh hanya dalam 3 – 4 hari, maka batuk rejan bisa berlangsung lebih lama, dalam kasus kronis bahkan sampai  3 bulan atau lebih. Efek terparahnya dapat menyebabkan kematian.

Bagian tubuh kita yang terserang penyakit ini adalah selaput lendir dari saluran pernapasan. Saluran napas menjadi bengkak karena meradang sehingga mengakibatkan bertambahnya produksi lendir. Keadaan ini menyebabkan saluran napas menjadi menyempit.

Inilah keadaan yang menyebabkan kita merespon dengan batuk, untuk mengeluarkan apapun yang menyumbat saluran napas kita. Pada bayi dan balita, kasus ini bisa berkembang lebih parah karena sumbatan napas menyebabkan kematian.

Bagaimana gejalanya?

Tubuh akan menunjukkan gejala setelah 5 – 21 hari terpapar oleh kuman Bordetella pertusis ini. Namun, pada kasus terjadi umumnya gejala terjadi setelah 7 – 10 hari setelah terinfeksi kuman.

Gejala yang terjadi antara lain flu, batuk pilek, peradangan pada tenggorokan, demam dan lendir berlebih.

Setelah melewati fase ini sampai 2 minggu berikutnya, penderita sudah dapat menularkan kuman Bordetella pertusis pada orang lain. Bahkan sifatnya sangat menular. Sehingga, penderita harus dipisahkan dari orang lain terutama bayi dan balita.

Sebab, seperti yang disebutkan tadi, pada bayi dan balita penyakit ini bisa sangat parah sampai menimbulkan kematian.

Bersama dengan flu, timbullah batuk yang biasanya lebih buruk pada malam hari. Frekuensinya bisa hanya beberapa kali sampai ratusan kali per hari.

Pada saat penderita sedang batuk, wajahnya biasanya menjadi merah dan matanya berair. Pada kasus yang lebih parah, batuk ini tidak memberi kesempatan pada penderita untuk sekedar menghirup udara sehingga wajah membiru karena kekurangan asupan oksigen.

Baca Artikel Lainnya :

Pada bayi dan balita, gejala yang ditimbulkan kurang spesifik, biasanya terjadi penurunan berat badan sehingga bayi harus dirawat di rumah sakit.

Data di Inggris menunjukkan satu dari 500 bayi yang mengidap batuk rejan meninggal dunia.

Komplikasi yang mungkin timbul jika batuk ini terjadi pada bayi pun menjadi lebih beragam. Bahkan studi juga mengatakan bahwa bayi yang menderita batuk rejan, saat tumbuh dewasa kelak bisa terkena epilepsi.

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *