Pahlawan Nasional Wanita Cut Nyak Dien

Biografi Pahlawan Nasional Wanita Cut Nyak Dien – Tjoet Nja’ Dhien yang sering disebut Cut Nyak Dien ini lahir pada tahun 1850 di Lampadang. Cut Nyak Dien merupakan pemimpin dari perjuangan derilya selama perang Aceh berlangsung. Sehabis kematian suaminya Teuku Umar, Cut Nyak Dien memimpin aksi gerilya melawan Belanda selama 25 tahun. Cut Nyak Dien dianugerahi penghargaan sebagai pahlawan nasional Indonesia pada tanggal 2 Mei 1964 oleh pemerintah Indonesia saat itu.

Cut Nyak Dien dilahirkan dari keluarga islam aristocrat di Aceh Besar daerah VI mukim. Ayahnya Teuku Nanta Setia adalah anggota dari peraturan kelas Ulee Balang aristocrat di VI mukim dan ibunya juga berasal dari keluarga aristocrat. Cut Nyak Diendiajari pendidikan agaman dan urusan rumah tangga. Cut Nyak Dien dianugerahi kecantikan dan banyak lelaki yang melamarnya sampai pada akhirnya orang tuanya mengatur pernikahannya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari keluarga aristocrat, ketika Cut Nyak Dien berumur dua belas tahun.

Pada tanggal 26 Maret 1873, belanda mendeklarasi perang di Aceh, permulaan perang Aceh. Selama awal masa peperangan, Aceh dipimpin oleh panglima polem dan sultan Alauddin Mahmud Syah II. Tentara Belanda mengirimkan 3000 prajurit yang dipimpin oleh Johan Harmen Rudolf Kohler untuk merebut istana sultan. Sultan saat itu menerima bantuan militer dari Itali dan Inggris dan pasukan Aceh menjadi semakin besar dan modern secara cepat dari jumlah 10.000 hingga menjadi 100.000 prajurit. Belanda dapaksa untuk mundur dan Kohler meninggal saat peperangan ini.

Pada tahun 1873, belanda berhasil merebut VI mukim dan karenanya pada tahun 1875, Cut Nyak Dien, anaknya dan ibunya dievakuasi ke tempat aman ketika suaminya berperang untuk merebut tempat itu kembali. namun, Teuku Ibrahim Lamnga meninggal saat peperangan di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878.

Mendengan berita tersebut, Cut Nyak Dien marah dan bersumpah untuk menghancurkan Belanda. Setelah meninggalnya Teuku Ibrahim Lamnga, seorang pahlawan Aceh Teuku Umar melamar Cut Nyak Dien. Meskipun pada awalnya Cut Nyak Dien menolaknya, kemudian Cut Nyak Dien menerima lamarannya ketika Teuku Umar memperbolehkannya untuk berperang dan mereka menikah di tahun 1880. Ini sangat mendorong moral pasukan Aceh dala perangnya melawan Belanda. Teuku Umar dan Cut Nyak Dien memiliki seorang anak perempuan bernama Cut Gambang.

Perang terus berlanjut dan sampai akhirnya Teuku Umar dibunuh selama pertarungan belanda melakukan serangan dadakan pada Teuku Umar di Meulaboh. Anak mereka menangis dan Cut Nyak Dien mengatakan kepada anaknya ‘sebagai seorang wanita aceh, kita tidak boleh menangis untuk orang yang telah meninggal’.

Setelah suaminya meninggal, Cut Nyak Dien melanjutkan perjuangannya melawan bealnda dengan pasukannya yang sedikit sampai kehancurannya pada tahun 1901. Cut Nyak Dien kesulitan dalam banyak hal karena usia dan jumlah pasukan semakin menurun dan mereka kekurangan pasokan.

Dan akhirnya satu dari prajuritnya Pang Laot memberitahu Belanda keberadaan persembunyiannya di Beutong Le Sageu. Belanda menangkap Cut Nyak Dien dan pasukannya. Akhirnya Cut Nyak Dien ditangkap tetapi anaknya Cut Gambang berhasil melarikan diri dan mealnjutkan perjuangan.

Cut Nyak Dien dipindahkan ke Banda Aceh tetapi pada akhirnya dipenjara di Sumedang Jawa Barat karena Belanda khawatir Cut Nyak Dien akan menggerakkan orang-orang Aceh lagi. Untuk mengenang Cut Nyak Dien, Eros Djarot menulis dan membuat film Tjoet Nja’ Dhien dan memenangkan penghargaan untuk Best International Film di Cannes Film Festival di tahun 1989.

Baca juga : Biografi Pemain Sepak Bola Indonesia Bambang Pamungkas

Loading…

One thought on “Pahlawan Nasional Wanita Cut Nyak Dien

  1. Pingback: Victoria Woodhull, Tokoh Perempuan USA | Joko Warino Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *