Pakar Sosiologi Indonesia, Arief Budiman

Pakar Sosiologi Indonesia, Arief Budiman – pakar psikologi Arief Budiman dilahirkan pada tanggal 3 Januari 1941. Arief Budiman merupakan kakak laki – laki dari Soe Hok Gie. Arief Budiman merupakan keturunan Tiongkok dan memiliki nama lahir Soe Hok Djin.

Arief Budiman merupakan lulusan dari Kolese Kanisius, sebuah sekolah menengah atas Jesuit dan kemudian melanjutkan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia dimana Arief Budiman mendapatkan gelar sarjana Psikologi di tahun 1968. Arief Budiman merupakan salah seorang aktivis muda saat mengecap sekolah sarjananya di Universitas Indonesia. Arief Budiman saat itu berpartispasi dalam mengkritisi pemerintahan saat itu, bahkan ikut di dalam demonstrasi menurunkan pemerintahan Sukarno dengan Orde Lamanya.

Arief Budiman melanjutkan pendidikannya magister sampai dengan tingkat doctoral dan akhirnya Arief Budiman memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Harvard University. Pada tahun 1980, Arief Budiman mendapatkan gelar doktoralnya di bidang sosiologi dari Harvard University di Amerika Serikat.

Arief Budiman merupakan seorang sosiologis keturunan Tiongkok – Indonesia dan merupakan seorang dosen yang mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga Indonesia sampai tahun 1996. Sejak tahun 1997 sampai saat ini, Arief Budiman menjadi seorang professor di Indonesia di University of Melbourne, Australia.

Arief Budiman merupakan seorang pengkritik terhadap politik Indonesia. Sebagai contoh, kutipan Arief Budiman yang dikutip di dalam buku Adam Schwaz yang berjudul Nation in Waiting (edisi tahun 1994) yang mana menguraikan analisis lanjutan dari demokrasi dunia ke tiga di tahun 1992 ketika Suharto masih memiliki kekuasaan. Dalam buku tersebut Arief Budiman menuliskan bahwa “yang pertama adalah apa yang harus saya sebutkan demokrasi pinjaman.

Kondisi demokrasi ini terjadi ketika Negara Negara sangat kuat jadi bisa dikritisi. Sejenis tempat demokrasi kemudian muncul yang mana orang-orang dapat mengekspresikan pendapatnya dengan bebas. Bagaimanapun, ketika suatu Negara memikirkan kritikan telah terlalu jauh, itu akan secara sederhana mengambil kembali demokrasi yang hanya dipinjamkan.

Masyarakat tidak punya kekuatan untuk menentang. Ada, kedua, demokrasi terbatas. Demokrasi ini ada hanya ketika terdapat sebuah konflik diantara elite Negara… masyarakat dapat mengkritisi satu golongan dari yang memiliki kkekuasaan dan dilindungi oleh golongan yang bertentangan.. bagaimanapun, ketika konflik dalam elit berakhir, kondisi demokrasi ini kemungkinan akan menghilang juga”.

Kutipannya ini merupakan sebuah ungkapan kritikan terhadap pemerintahan Suharto pada masa kepemimpinannya. Arief Budiman pernah menjadi editor dengan Damien Kingsbury pada tahun 2001 dalam sebuah karya tulis Indonesia : the Uncertain Transition Hindmarsh, S. Aust. Crawford House.

Tidak hanya mengkritisi pemerintahan mantan presiden Sukarno dan Suharto saja, Arief Budiman juga makin pedas dalam mengkritisi mantan presiden Abdul Rahman Wahid dan juga Megawati Sukarno Putri dengan PDI saat itu. Saat itu, Arief Budiman mengatakan bahwa Abdul Rahman Wahid seharusnya sebagai pemimpin baru di Indonesia banyak mencari koalisi bukan malah banyak mencari musuh.

Arief Budiman mengatakan bahwa partai demokrasi Indonesia perjuangan merupakan partai yang kacau dan juga rusak. Akibat perkataannya ini, banyak sekali yang balik mengkritisi Arief Budiman yang katanya hanya bisa bicara dari luar negeri saja tanpa ada usaha atau tindakan apapun untuk memperbaiki negaranya.

Baca juga : Soemitro Djojohadikoesoemo, Tokoh Ekonomi dan Pendidikan Indonesia

Loading…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *