Panduan Singkat Dan Cara Budidaya Padi Sistem SRI

Panduan Singkat Dan Cara Budidaya Padi Sistem SRI – Cara Budidaya Padi dengan sistem SRI untuk pertama kali dikembangkan di Madagaskar oleh seorang Pastor Jesuit yang berasal dari Prancis bernama Fr. Henri de Laulanie, SJ. Beliau mempublikasikan penemuannya berupa sebuah metode sebagai hasil temuannya sekitar tahun 1983.

Selanjutnya metode yang ditemukannya tersebut di atas dikenal dengan istilah ‘Ie Systme de Reziculture Intensive’ yang di dalam Bahasa Inggris populer dengan istilah ‘System of Rice Intensification / SRI’.

Lalu bagaimanakah cara budidaya Padi melalui sistem SRI ?

1. Proses Penyemaian

Langkah awal yang mesti dilakukan dalam usaha membudidayakan Padi organik ini adalah menyemai benih. Silahkan anda lakukan penyeleksian benih guna memperoleh benih yang benar – benar berkualitas. Membutuhkan ½ Kg benih Padi pada sawah seluas 200 m persegi. Sistem pengujian benih dapat dilakukan dengan memasukkan benih ke dalam air untuk mengetahui kualitas masing – masing. Bulir – bulir Padi yang tenggelam artinya berkualitas dan untuk benih yang mengapung artinya sudah tumbuh atau kopong / kosong.

Benih – benih yang sudah berhasil melalui proses pengujian selanjutnya direndam sekali lagi dengan menggunakan air biasa selama 24 jam lalu tiriskan dan peram selama 2 s/d 3 hari pada tempat yang lembab hingga calon tunas – tunas baru keluar. Semai benih dalam media tanah yang sudah disediakan sebelumnya, taburkan pupuk kompos sekitar 10 Kg. Nah setelah berusia semai sekitar 7 hingga 12 hari, maka benih Padi sudah siap untuk anda tanam ke lahan yang sudah anda siapkan tersebut. Benih – benih yang akan ditanam jangan sampai melebihi waktu 12 hari karena akan kesulitan dalam beradaptasi.

2. Sistem Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan bisa dilakukan dengan menggunakan cangkul atau bajak. Lakukan minimal 2 kali pencangkulan / pembajakan yaitu pembajakan kasar dan halus baru kemudian diikuti dengan pencangkulan. Total pengolahan tanah lahan dilakukan selama 2 hingga 3 hari untuk selanjutnya dialiri dengan air dan menjadikan lahan tanam terendam air sawah selama 1 hari. Pastikan keesokan harinya benih yang sudah anda semai tersebut di atas siap untuk ditanam yaitu mencapai usia 2 s/d 12 hari.

3. Proses Penanaman

Sebelum memasuki usia tanam disarankan untuk melakukan pembuatan jarak tanam yang baik adalah ukuran rata – rata 25 x 25 Cm atau 30 x 30 Cm. Sehingga jarak tanam tidak begitu rapat atau terlalu longgar.

4. Perawatan Tanaman

Menjaga aliran sungai agar sawah tidak terlalu banyak tergenang oleh air atau justru kekurangan air. Dalam kondisi ini para petani biasanya melakukan kontrol rutin selanjutnya melakukan penutupan atau membuka pintu aliran air secara teratur.

Lakukan pemupukan 20 hari setelah masa penebaran benih. Pupuk pilihan yang sebaiknya digunakan adalah kompos dengan takaran rata – rata 175 hingga 200 Kg. Saat akan melakukan pemupukan sebaiknya lahan sawah dikeringkan dengan cara pintu air sungai ditutup.

Setelah memasuki masa 27 hari dari tahap penebaran, aliri sawah dengan menggunakan metode bergilir antara basah dan kering.

Perhatikan hama yang suka menyerang area sawah / tanaman padi adalah serangga seperti Walang Sangit, Wereng dan Burung juga penyakit ganjuran / daun menguning. Metode penanganan hama pada umumnya dilakukan secara manual saja contohnya adalah membuat orang – orangan seperti sedang menjaga sawah di tengah sawah akan banyak membantu mengusir burung – burung liar tersebut. Lakukan penyemprotan Pestisida Hayati seperti ‘kipait’, nanas dan bawang putih hingga melakukan pencabutan sekaligus membakar tanaman yang sudah terlanjur menyerang daun Padi hingga menjadi menguning.

5. Pencegahan

Pencegahan termudah yang bisa dilakukan adalah melakukan penanaman serentak. Tujuan dilakukan ini adalah agar penyakit dan hama tak mudah untuk menyerang. Juga lakukan pengaturan air agar menjadi lebih baik dengan pengaplikasian bibit yang sehat sehingga akan mampu melakukan sistem budidaya tanaman sehat dengan dilengkapi kandungan vitamin dan nutrisi sehingga kekebalan tanaman cukup kuat.

Jenis hama yang lainnya perlu untuk diwaspadai adalah hama putih, kepik hijau, thrips, dan tikus penggerek batang Padi.

Sementara penyakit terakhir yang cukup rawan menyerang adalah penyakit bercak daun yang berwarna coklat, busuk pelepah daun, penyakit blast, penyakit kresek, penyakit tungro dan fusarium.

Demikianlah ulasan singkat yang kami berikan melalui artikel ini tentang panduan singkat dan cara budidaya Padi sistem SRI, semoga bermanfaat !

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *