Pasar Mahuitas Di NTT, Hangatnya Silaturahmi Di Batas Negara

Nusa Tenggara Timur sejak dulu hingga saat ini memiliki pesona alam yang sangat luar biasa karena pulau ini mempunyai banyak destinasi wisata kelas dunia seperti halnya yang terdapat di pulau Komodo dan Alor.

NTT banyak menyimpan keunikan alam yang tidak dimiliki oleh provinsi lain di Indonesia, dan penduduknya sangat ramah yaitu mampu bertetangga dengan negara serumpun atau negara – negara tetangga.

K 127

Letak geografis pulau NTT yang strategis di batas negara Indonesia dengan Timor Leste mampu menciptakan interaksi hangat antara penduduk Indonesia dan warga asing di Timor Leste.

Tertarik menyaksikannya sendiri budaya unik dari warga NTT ? Cara paling mudah untuk mempelajarinya adalah dengan datang ke pasar perbatasan yang berada di sepanjang jalan menuju ke Timor Leste.

Tujuan utama adalah pasar Mahuitas di Lamaknen. Pasar ini selalu ramai setiap harinya dikunjungi oleh pedagang dan pembeli yang hilir mudik di tengah pasar tradisional yang bergaya unik dan kental akan arsitektur NTT yang jauh dari dunia modern seperti daerah – daerah lainnya di Indonesia.

Selain sebagai tempat untuk transaksi jual beli, pasar Mahuitas juga menjadi tempat silaturahmi bagi masyarakat yang terpisah karena kewarganegaraan yang berbeda.

Mulai dari penduduk pada distrik Memo dan Maliana di Timor Leste sampai penduduk Lamaknen, masing – masing akan berkumpul dan bercengkrama sambil menikmati penganan khas masyarakat lokal yang dapat dinikmati dengan secangkir kopi panas (seperti yang sering dilakukan oleh warga asli dari pulau Bali).

Sejak dini hari, dijumpai para pedagang yang sudah berkumpul di dalam pasar untuk mencukupi kebutuhan sandang dan pangan para pembeli dari daerah Lamaknen. Kebanyakan produk yang mereka jual dipasok dari Atambua yang berjarak sekitar 43 km dari perbatasan.

Kalau pedagang setempat, biasanya mereka hanya menjual berbagai kudapan lokal dan hasil bumi asli dari Lamaknen. Transaksi yang terjadi di pasar Mahuitas juga unik dan jumlahnya beragam, mereka menggunakan dua mata uang untuk transaksi jual beli yaitu Rupiah dan Dollar Amerika yang dipakai sehari – hari di Timor Leste.

Jadi anda jangan heran jika melihat keluguan orang – orang di dalam pasar tradisional tetapi mereka sudah terbiasa belanja memaka Dollar Amerika, kembaliannya bisa dalam bentuk Rupiah atau Dollar Amerika.

Jangan lupa untuk duduk jika anda berbelanja apa saja di dalam pasar karena untuk menghindar dari rasa lelah dan penat dimana pada umumnya para penjual di pasar ini menjajakan barang dagangannya dengan cara digelar di atas tanah dengan memakai alas dari plastik, tikar atau daun pisang.

Banyak terdapat ibu – ibu tua warga lokal yang berjualan jamu tradisional Indonesia yang bermanfaat untuk menghilangkan pegal – pegal di badan selesai jalan – jalan mengelilingi pasar.

Jika anda ingin membeli oleh – oleh, di sinilah surganya. Mulai dari baju batik NTT bertuliskan Timor Leste, hingga kain – kain tradisional NTT yang dijajakan di sini dalam beragam kreasi yang memikat hati para pengunjung terutama turis mancanegara.

Karena minimnya transportasi publik di sini, biasanya “ mama – mama ”, sapaan akrab untuk ibu – ibu yang berjualan di pasar – pasar wilayah Indonesia timur, mereka datang ke pasar hanya dengan berjalan kaki saja sambil memanggul barang bawaannya di atas kepala.

Anda jangan heran atau jangan harap ada trolly seperti yang terdapat pada pasar – pasar modern di kota – kota besar. Semuanya di sini serba alami dan mereka tampak sangat sehat menjalani semua aktivitas yang menurut sebagian orang di luar pulau merupakan kegiatan berat untuk dijalani setiap hari.

Bakar Ikan di pasar.

Menjelang sore, di sekitar halaman depan pasar banyak bermunculan warung makan tenda kagetan yang menjual sajian khas berupa ikan laut bakar. Keunikan dari para penjual tersebut adalah para pembeli diberi kesempatan untuk membuat api unggun sendiri sebagai tempat membakar ikan laut sebagai santap makan malam bersama sayur dan sepiring nasi hangat.

Pilihlan tempat duduk yang strategis, jika sudah ketemu, anda akan diberikan ranting – ranting kayu liar dari hutan, batok kelapa, dan batang pohon mati yang bisa disulut untuk menjadi api unggun.

Kegiatan pasar akan terhenti sejenak ketika matahari mulai tenggelam, menyaksikan Tuhan sedang melukis keindahan langit dengan tinta surga warna kuning dan oranye kemerah – merahan di waktu sore hari.

Api unggun sukses berkobar, ikan gondola segar hasil membeli dari nelayan tradisional di dalam pasar tadi siang telah siap berubah bentuk menjadi ikan bakar gondola sedap beraroma wangi ditemani oleh sepiring saus kecap pedas manis.

Baca Artikel Lainnya :

Bersama dengan teman – teman dekat anda, mulailah menyantap ikan bakar sambil duduk di pasir pantai yang dekat dengan pasar, mendegar suara deburan ombak, serta langit yang semakin gelap berhias sejuta bintang malam yang sukses menutup maraton anda jalan – jalan ke pasar tradisional hingga bersantap malam di pantai.

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *