Pengertian dan Definisi Basa Sitosin

Pengertian dan Definisi Basa Sitosin – Dalam tubuh makhluk hidup yang ada di bumi, terdapat DNA yang dapat digunakan sebagai penanda karakteristik dari organisme karena masing-masing organisme memiliki DNA yang unik.

1

Asam deosibiribonukleat terbentuk dari satuan molekul yang dinamakan nukleotida. Dalam satuan molekul tersebut terdapat salah satu basa nitrogen. Basa nitrogen yang membentuk DNA terdiri dari guanina atau guanin (G), Sitosin atau sitosina (C), timina atau timin (T) dan adenina atau adenin (A). Sedangkan basa yang membentuk RNA adalah guanina atau guanin (G), Sitosin atau sitosina (C), urasil dan adenina atau adenin (A).

Sitosin

Sitosin atau sitosina merupakan salah satu basa yang membentuk nukleotida beserta dengan gula dan gugus fosfat sehingga dapat membentuk DNA.

Nukleotida tidak hanya untuk membuat molekul DNA namun juga molekul RNA sehingga basa ini merupakan satu dari 2 basa nitrogen pirimidina. Baik dalam pembentukan DNA atau RNA, sitosin memiliki fungsi atau tugas tersendiri.

Basa

Basa disebut juga dengan basa nitrogen karena terdapat cincin yang mengandung karbon dan atom nitrogen. Basa yang ada dalam tubuh dan membentuk nukelotida dibagi menjadi 2 kelompok yang berbeda. Perbedaan dari basa tersebut berdasarkan pada struktur dasar. Kelompok basa tersebut yaitu:

  • Basa purin yang memiliki 2 cincin atom misalnya adenin dan guanine.
  • Basa pirimidin adalah basa dengan 1 cincin dan yang termasuk adalah sitosin, timin dan urasil.

Dalam pembentukan DNA, basa selalu dipasangkan dengan yang lain dan basa purin akan berikatan dengan basa pirimidin. Basa tersebut tidak dapat dipasangkan dengan sesama basa purin ataupun basa pirimidin karena akan saling tolak menolak sama seperti halnya magnet.

Dari pasangan basa tersebut terdapat pasangan basa spesifik yaitu pasangan antara basa sitosin yang selalu berpasangan dengan guanin, adenin dengan timin (pada DNA) atau adenin dengan urasil (pada RNA).

Pada pasangan basa spesifik, akan membuat molekul jauh lebih seragam dan juga stabil dibandingkan dengan pasangan basa lainnya. Hal tersebut dikarenakan jarak antar 2 untai molekul yang DNA atau RNA akan seragam yaitu antar cincin tunggal (sitosin-guanin) dan cincin ganda (adenin-timin).

Jika basa purin berikatan dengan basa purin yang lainnya akan terjadi double ring yang terikat pada cincin ganda. Begitu juga dengan basa pririmidin yang berikatan dengan basa pirimidin yang lainnya, akan membuat cincin tunggal terikat dengan cincin tunggal dan membuat molekul DNA menjadi beragam dan tidak stabil.

Struktur dari masing-masing basa akan menentukan dan mempengaruhi kemampuan dari ikatan basa dan jumlah ikatan hidrogen yang terbentuk. Hanya pasangan basa spesifik yang dapat membentuk ikatan hidrogen yang dibutuhkan dalam molekul DNA ataupun RNA.

Pasangan basa sitosin dengan guanin memiliki 3 ikatan hidrogen yang terbentuk antara dua basa tersebut. Sedangkan pada pasangan basa adenin dengan timin atau dengan urasil, hanya terdapat 2 ikatan hirdrogen yang terbentuk.

Kode yang terdapat pada DNA terbentuk dari urutan basa yang tersusun. Fungsi kode tersebut diantaranya adalah untuk menginstruksikan atau menginformasikan sel untuk pembuatan gen ataupun untuk pembuatan protein tertentu. Kode triplet basa digunakan untuk pembentukan protein dengan menggunakan asam amino tertentu.

Urutan yang terbentuk dan dikirimkan dalam bentuk kode tersebut akan menentukan fungsi asam amino misalnya untuk pembentukan protein jenis tertentu. Protein yang dihasilkan dalam sel akan menentukan struktur sel dan fungsinya sehingga basa nitrogen dapat membawa kode genetik untuk sel.

 

Baca Artikel Lainnya :

Loading...

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *