Pengertian Teori Big Bang Tentang Jagat Raya

Sampai saat ini pertanyaan akan bagaimana semesta ini diciptakan masih menjadi misteri besar, khususnya bagi para ilmuan. Ada banyak teori yang mencoba untuk menjelaskan hal tersebut.

a 48

Dari teori yang mengatakan bahwa dahulu ada dua dewa yaitu Marduk dan Tiamat yang bertempur yang merupakan interpretasi dari zaman Babiliona Kuno hingga teori yang relatif di terima oleh ilmuwan yaitu teori Big Bang.

Satu teori yang paling terkenal tentang bagaimana jagat raya ini tercipta adalah teori Big Bang. Teori yang dicetuskan pertama kali oleh Georges Lemaitre, seorang biarawan Katolik Roma Belgia ini menjelaskan bahwa jagat raya berawal dari adanya suatu massa yang sangat besar dengan berat jenis yang besar pula dan mengalami ledakan yang sangat dahsyat karena adanya reaksi pada inti massa.

Ketika terjadi ledakan besar, bagian-bagian dari massa tersebut berserakan dan terpental menjauhi pusat dari ledakan. Setelah miliaran tahun kemudian, bagian-bagian yang terpental tersebut membentuk kelompok-kelompok yang dikenal sebagai galaksi dalam sistem tata surya.

Teori Big Bang dalam kosmologi merupakan salah satu teori ilmu pengetahuan yang menjelaskan perkembangan dan bentuk awal dari alam semesta. Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ini berasal dari kondisi super padat dan panas, yang kemudian mengembang sekitar 13.700 juta tahun lalu.

Para ilmuwan juga percaya bawa Teori Big Bang ini yang membentuk sistem tata surya. Ide sentral dari teori ini adalah bahwa teori relativitas umum dapat dikombinasikan dengan hasil pemantauan dalam skala besar pada pergerakan galaksi terhadap satu sama lain, dan meramalkan bahwa suatu saat alam semesta akan kembali atau terus.

Teori Big Bang bergantung kepada dua asumsi utama: universalitas hukum fisika dan prinsip kosmpologi. Prinsip kosmologi menyatakan bahwa dalam skala yang besar alam semesta bersifat homogen dan isotropis.Kedua asumsi dasar ini awalnya dianggap sebagai postulat, namun beberapa usaha telah dilakukan untuk menguji keduanya.

Sebagai contohnya, asumsi bahwa hukum fisika berlaku secara universal diuji melalui pengamatan ilmiah yang menunjukkan bahwa penyimpangan terbesar yang mungkin terjadi pada tetapan struktur halus sepanjang usia alam semesta berada dalam batasan 105.

Apabila alam semesta tampak isotropis sebagaimana yang terpantau dari bumi, prinsip komologis dapat diturunkan dari prinsip Kopernikus yang lebih sederhana. Prinsip ini menyatakan bahwa bumi, maupun titik pengamatan manapun, bukanlah posisi pusat yang khusus ataupun penting.

Sampai dengan sekarang, prinsip kosmologis telah berhasil dikonfirmasikan melalui pengamatan pada radiasi latar gelombang mikro kosmis.

Walaupun saat ini teori Big Bang mendapatkan dukungan yang luas dari para ilmuwan, dalam sejarahnya, berbagai persaoalan dan masalah pada teori ini sempat memicu kontroversi ilmiah mengenai model mana yang paling baik dalam menjelaskan pengamatan kosmologis yang ada.

Banyak dari persoalan dan masalah teori Big Bang telah mendapatkan solusinya, baik melalui modifikasi pada teori itu sendiri maupun melalui pengamatan lebih lanjut yang lebih baik.

Baca Artikel Lainnya :

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *