Penyair Ternama, Goenawan Mohamad

Biografi Penyair Ternama, Goenawan Mohamad – Siapa yang tak kenal sosok yang satu ini. Seorang jurnalis dan sastrawan kawakan yang  berwawasan luas serta kritis. Ia lahir di Kabupaten Bateng, Jawa Tengah, 29 Juli 1941. Pengalamannya di dunia literasi sudah tak perlu lagi diragukan.

goenawan mohamadIa pernah menjabat sebagai Redaktur di Harian KAMI (1969-1970), Redaktur Majalah Horison (1969-1974), Pimpinan Redaksi Majalah Ekspres (1970-1971), Pemimpin Redaksi Majalah Swasembada (1985), Pendiri Cum Kolumnis, Tempo (1971- sekarang).

Sosok yang memiliki pandangan luas dan liberal ini pada masa remajanya lebih dikenal sebagai seorang penyair. Pria yang memiliki dua orang anak dari istrinya, Widarti Djajadisastra, ini sudah gemar menulis sejak usianya 17 tahun.

Namun kegemarannya dengan dunia penyair telah ia tumbuhkan sejak di bangku 6 SD dengan seringnya ia mendengarkan acara puisi yang disiarkan di RRI.

Di tahun 1971, Goen – demikian ia akrab disapa, sering menulis kolom tentang agenda politik Indonesia di Majalah Tempo, majalah yang ia dirikan bersama rekan-rekannya. Kala itu ia sering mengkritik rezim Soeharto karena dianggap menghambat pertumbuhan demokrasi di Indonesia.

Hingga akibat keberaniannya majalah ini sempat dibekukan hingga pada tahun 1998, ketika penggulingan Soeharto, majalah ini pun dapat dibuka kembali. Setelah itu barulah dibentuk surat kabar harian Koran Tempo. Namun perjalanan Koran Tempo tak selamanya mulus. Baru terbit beberapa tahun, Pengadilan Negeri Jakarta memberikan hukuman kepada Goenawan akibat pernyataannya yang menyinggung pemilik Artha Graha.

Setelah vakumnya Koran Tempo, Goen dan kawan-kawan sastrawan dan seniman tidak berhenti sampai di situ. Ia beserta para seniman yang sepemikiran membentuk ISAI (Institut Studi Arus Informasi) dari lembaga inilah para cendikiawan dan seluruh seniman yang tergabung memperjuangkan kebebasan ekspresi. Dan terbentuknya lembaga ini merupakan cikal bakal terbentuknya Teater Utan Kayu, Radio 68 H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal dan Sekolah Jurnalisme Penyiaran.

Setelah selesai jabatannya sebagai pemimpin redaksi di Tempo, ia berhenti menulis dan bergabung bersama para seniman lain seperti Tony Prabowo dan Jarrad Powel. Mereka membentuk Opera Kali. Mereka melakukan beberapa pementasan di luar negeri.

Diantaranya The King’s Wicth (1997-2000) bersama Tony di Seattle, Pastoral (2006) kolaborasi konser dan puisi oleh Tony dan Goenawan di Tokyo. Drama Tari Kali Yuga yang dikoreografikan oleh Wayan Dibya dan dibantu oleh Penari Ketut, Gamelan Sekar Jaya, di Berkeley-California.

Tidak hanya populer di luar negeri, Goenawan Mohamad tidak ketinggalan dalam beberapa pertunjukan seni di dalam negeri. Seperti pertunjukan Wayang Kulit (1995) yang dimainkan oleh Sudjiwo Tedjo, Wisanggeni dan Dalang Slamet Gundono, Goen lah sebagai penulis teks dramanya, Drama Alap-Alapan Sutikarni (2002) dan juga Tari Panji Sepuh yang dibantu oleh Sulistio Tirtosudarmo.

Beberapa karya Goenawan yang mengabadi hingga kini di benak pembaca setianya diantaranya Parikesit (kumpulan puisi) 1969,  Interlude-1971 (diterjemahkan pula ke berbagai bahasa), Potret Seorang Penyair Muda sebagai si Malin Kundang (himpunan essai) 1972.

Dan masih banyak lagi. Namun karyanya yang paling populer adalah Caping (Catatan Pinggiran) yaitu sebuah artikel pendek yang dimuat di halaman paling belakang dari Koran Tempo. Isi dari Caping memuat kritik dan komentar dari headline news yang sedang hangat saat itu. Sejak kemunculannya di akhir tahun 1970-an, Caping menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran kolot, picik dan fanatik.

Berikut salah satu contoh karya beliau:

“Di sekolah, anak-anak belajar bahasa Indonesia, tetapi mereka tak pernah diajar berpidato, berdebat, menulis puisi tentang alam ataupun reportase tentang kehidupan. Mereka cuma disuruh menghafal : menghafal apa itu bunyi diftong, menghafal definisi tata bahasa, menghafal nama-nama penyair yang sajaknya tak pernah mereka baca.”

Baca Juga: Sastrawan Indonesia Sutan Takdir Alisjahbana

Loading...

One thought on “Penyair Ternama, Goenawan Mohamad

  1. Pingback: Aktor yang Sedang Naik Daun, Reza Rahardian | Joko Warino Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *