Potret Menembus Batas Cakrawala : Mengenal Budaya Orang Rimba Sebagai Penjaga Belantara Sumatera Di Jambi

Di Indonesia tidak hanya pulau Bali saja yang menyimpan pesona alam begitu menggoda, keindahan Jambi hampir menyerupai pesona alam pulau Bali, tidak hanya muncul di permukaan saja, ragam budaya dan pesona bawah tanah di Goa Sengering adalah kekayaan alam Indonesia yang tak ternilai harganya dan patut untuk anda kunjungi.

k 56

Jika anda ingin jalan – jalan ke kawasan wisata yang belum banyak dijamah oleh tangan – tangan manusia maka Bumi Merangin adalah jawabannya. Keindahan alam kawasan wisata ini tidak hanya tampak di permukaan tapi juga berurat akar hingga ke perut bumi.

Apa yang bisa anda nikmati di dalam goa ? Anda akan terkagum – kagum oleh keindahan stalaktit dan stalagmit di dalamnya. Speleothem yang menggantung cantik di langit – langit goa kaya akan beragam bentuk dan rupa, ada yang runcing menyerupai taring, ada yang besar seperti gelombang sungai atau ombak di laut, dan ada pula yang bentuknya menyerupai pilar.

Tamparan udara dingin akan menerpa kulit wajah anda ketika memasuki pintu goa, dimana buliran air satu demi satu menetes dari atap goa (pada stalaktit) akan terlihat seperti titik cahaya yang berkilau atau sekumpulan batu permata intan yang paling mahal saat terkena sinar lampu atau sinar matahari yang menyelinap melalui celah – celah dinding goa, dimana kondisi ini merupakan pemandangan bawah tanah yang begitu mempesona.

Mengenal Budaya Orang Rimba Di Jambi

Seperti halnya kawasan wisata Goa Sengering di Jambi, daerah ini juga menyimpan budaya unik tentang keberadaan sebuah suku kuno yang sudah berabad – abad lamanya mendiami kawasan hutan hujan tropis di pedalaman Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, Sumatera.

Taman Nasional Bukit Duabelas merupakan sebuah kawasan hutan hujan tropis dataran rendah terletak di provinsi Jambi. Pada awalnya, kawasan ini merupakan kawasan hutan produksi tetap yaitu hutan produksi terbatas dan areal penggunaan lainnya yang digabung menjadi sebuah taman nasional.

Berlokasi dibagian utara taman nasional, sedangkan yang lainnya adalah kelompok hutan sekunder. Kelestarian hutan – hutan tersebut sejak dulu dijaga ketat oleh orang rimba dengan menciptakan berbagai aturan agar hutan yang mereka huni tetap terjaga kelestariannya dan tidak rusak oleh tangan – tangan jahil manusia tak bertanggung jawab.

Peraturan tersebut antara lain beberapa jenis pohon hutan yang berusia sangat tua memiliki aturan yaitu dilarang ditebang untuk fungsi apa pun.

Untuk tanah yang mereka pijak, dilarang untuk diperjual – belikan, sungai – sungai yang membelah belantara Sumatera yang melintas taman dilarang untuk dikotori dengan sampah – sampah yang bersifat kimia dan bisa merusak ekosistem alam di sekitarnya.

Apalagi untuk air yang mereka konsumsi, berasal dari mata air yang kenaturalannya dijaga ketat oleh laki – laki suku ini. Peraturan juga berlaku untuk binatang – binatang liar sejenis hewan peliharaan seperti sapi, babi, kelinci, ayam, bebek, angsa, kuda, dan hewan penjaga rumah adat mereka seperti burung, kucing, dan anjing.

Binatang liar atau hewan peliharaan berfungsi sebagai penyokong nutrisi hewani bagi tubuh mereka, sehingga suku ini merasa harus menjaga keamanan dan kelestarian hidup mereka dengan begitu ketat seperti melarang penjarah berburu burung liar atau kera – kera liar di dalam hutan.

Beberapa pakar memberi nama tersendiri kepada suku kuno ini yaitu suku meratai atau bepak bejoget, suku anak dalam, suku kubu, atau orang rimba sedangkan mereka sendiri menyebut kelompok mereka dengan nama urang rimbo.

Bagi urang rimbo, hutan dan sekitarnya adalah hal yang paling penting di dalam hidup mereka. Untuk keseharian mereka, suka mengenakan pakaian adat berupa cawat bagi laki – lakinya dan tanpa baju sedangkan kaum perempuan mengenakan kain batik dan penutup susu.

Pakaian minim tersebut dimaksudkan sebagai simbol penyatuan diri terhadap alam hutan yang asri, jauh dari kebisingan dan menyimpan setumpuk pesona alam yang sangat indah untuk dinikmati dari sudut pandang mereka sebagai suku kuno yang tidak begitu bergantung terhadap kecanggihan peradaban manusia moderen.

Bahkan rumah suku ini cenderung menyerupai gubuk – gubuk kumuh di kota – kota besar, tak membutuhkan dinding penjaga berupa pintu atau jendela karena mereka yakin di sekitar mereka tinggal adalah aman dari bahaya yang sewaktu – waktu bisa mengancan kehidupan mereka.

Urang rimbo adalah penganut sistem kekerabatan matrilieneal dimana kedudukan perempuan lebih dominan dan sangat penting sebagai kekuatan pejaga garis keturunan.

Hutan hujan tropis di pedalaman Sumatra (Jambi) ini bagi mereka adalah sebuah kemewahan dan tempat tinggal yang paling aman dan nyaman untuk ditempati, dimana terdapat pola hidup yang saling menopang, saling mengisi dan saling memberi.

Hal ini terlihat dari cara mereka makan malam yaitu dilakukan secara bersama – sama dengan cara yang begitu sederhana, duduk melingkar sambil beralaskan tikar di dalam rumah yang diterangi oleh lampu khusus dibuat dari bambu dan sumbu, dengan menu seadanya berupa daging kancil liar panggang, nasi putih, sayur, dan buah – buahan segar sama seperti masyarakat luar.

Hanya saja untuk berburu hewan liar, mereka membuat peraturan ketat yaitu dalam satu hari hanya boleh berburu satu binatang liar saja.

Lalu apa sebenarnya mata pencaharian dari orang rimba ini sehingga kehidupan mereka tentram dan damai meskipun terlihat seperti suku terasing ? Masing – masing keluarga orang rimba memiliki area tersendiri untuk beternak lebah penghasil madu.

Setiap pagi kepala keluarga akan membangun tangga – tangga dari kayu jati yang dilekatkan pada sebuah pohon perdu sebagai media dimana lebah penghasil madu mudah hinggap dan berkembang biak.

Ciri – ciri pohon yang dipakai untuk pengembangan madu hutan ini adalah dari jenis perdu, berusia tua, besar dan tinggi menjulang. Perdu yang cocok adalah pohon sialang atau kedondong, kruing, aloy, kawon, yang jelas pohon tersebut tidak berbenalu.

Baca Artikel Lainnya :

Pada malam hari ( malam – malam tertentu ), suku ini berkumpul di rumah kepala suku untuk mendapat kesempatan mendengar sesepuh menyampaikan norma – norma yang harus mereka patuhi untuk nantinya disampaikan kepada seluruh kepala keluarga dan anggotanya serta dibawa secara turun – temurun bagi anak – cucu mereka ( sesuai dengan aliran budaya yang dianut yaitu budaya tutur ).

 

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *