Prinsip Penggunaan Lahan Perencanaan

Untitled

Prinsip 1

Perencanaan tata guna lahan yang berorientasi pada kondisi lokal dalam hal baik metode dan isi. Pendekatan perencanaan sering gagal karena model global dan strategi implementasi yang diterapkan dan diambil alih secara otomatis dan tidak kritis. Tapi LUP bukan standar prosedur yang seragam dalam penerapannya di seluruh dunia. -Nya konten didasarkan pada analisa situasi regional atau lokal awal

Prinsip 2

Perencanaan penggunaan lahan mempertimbangkan sudut pandang budaya dan membangun pengembangan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.Masyarakat pedesaan atau kelompok sering dapat memberikan kompleks kearifan lokal lingkungan. Jika hal ini terjadi, pengetahuan lokal tersebut harus menjadi bagian dari dasar untuk perencanaan dan menerapkan penggunaan lahan yang berkelanjutan

Prinsip 3

Perencanaan penggunaan lahan memperhitungkan strategi tradisionaluntuk memecahkan masalah dan konflik.Masyarakat pedesaan tradisional memiliki cara sendiri untuk mendekati masalah dan konflik terhadap penggunaan lahan. Dalam proses perencanaan penggunaan lahan, mekanisme tersebut harus diakui, dipahami dan diperhitungkan.

Prinsif 4

Perencanaan penggunaan lahan mengasumsikan sebuah konsep yang mudah di mengerti dalampembangunan pedesaan berdasarkan prosesself-help dan self-seuai dengan tanggung jawab yang telah disepakati. Masyarakat harus secara aktif berpartisipasi dalam proses Perencanaan Penggunaan Lahan. Hasil perencanaan dan pelaksanaan tindakan hanya dapat berkelanjutan jika rencana yang bersama-sama oleh masyarakat, sehinnga masyarakat mempuyai rasa memiliki dari proses perencanaan tersebut.

Prinsif 5

Dalam Perencanaan penggunaan lahan perlu melakukan Negoisasi atau diskusi untuk menciptakan kesepakatan kerjasama antarpemangku kepentingan.Tugas inti Perencanaan Penggunaan Lahan terdiri dari proses komunikasi dan kerjasama yang memungkinkan semua peserta untuk merumuskan kepentingan dan tujuan mereka dalam Diskusi.

Sebuah elemen penting dari Perencanaan Penggunaan Lahanadalah identifikasi berbagai kelompok peserta dan membedakannya dalam hal penggunaan dan akses terhadap sumber daya lahan. Selain itu, posisi mereka pada skala sosial (jender approach) dan kapasitas mereka, baik sebagai stakeholder atau sebagai anggota pemerintah dan organisasi-organisasi lain juga harus dipertimbangkan

Prinsif 6

Perencanaan penggunaan lahan adalah proses menuju perbaikandalam kapasitas peserta untuk merencanakan dan mengambil tindakan.Metode partisipatif digunakan dalam semua langkah perencanaan penggunaan lahan. proses kualifikasi ini berpengaruhterhadap peningkatan kapasitas kelompok-kelompok lokal.

Prinsif 7

Perencanaan tata guna lahan membutuhkan transparansi.Oleh karena itu, memberikan informasi kepada semua peserta adalah wajib. Transparansi dalam perencanaan dan sejauh mana pihak yang memiliki kepentingan diinformasikan.Dalam hal ini dapatmeningkatkan motivasi masyarakat untuk menciptakan berkelanjutan hasilPenyebaran informasi dalam bahasa lokal (s) memberikan kontribusi untuk peningkatan transparansi. Selain itu, memperkuat kepercayaan dari Masyarakat dalam kegiatan perencanaan penggunaan lahan.

Prinsif 8

Diferensiasi stakeholder dan pendekatan jenis kelaminadalah prinsip-prinsip inti dalam perencanaan penggunaan lahan.Sebuah prasyarat untuk perencanaanpenggunaan lahan yang realistis adalah secara rinci dari berbagai kelompok kepentingan. Tujuannya adalah untuk mengetahui berbagai kepentingan dari para peserta dalam rangka menciptakan dasar untuk negosiasi dan proses pengambilan keputusan. Pria dan wanita seringkali tidak memiliki akses yang sama terhadap tanah dan memiliki spesifik cara mengartikulasikan diri. Kepentingan yang berbeda yang timbul dari karakter ekonomi dan sosial serta lingkup mereka. Oleh karena itu, peran gender merupakan kriteria penting ketika membedakan stakeholder.

Prinsif 9

Perencanaan penggunaan lahan didasarkan pada interdisipliner co-operasi.ekologi, ekonomi, teknis, keuangan, sosial dan dimensi budaya penggunaan lahan perlu dilakukanpendekatan secara interdisipliner. Perencanaan tata guna lahan memberikan banyak interface terhadap teknis dan bidang perencanaan.

Prinsif 10

Perencanaan penggunaan lahan merupakan proses berulang-ulang, hal itu merupakan suatu yang fleksibeldan reaksi terbuka berdasarkan temuan baru dalam memperbaiki dan mengubah suatukondisi pedesaan.

Prinsif 11

Perencanaan penggunaan lahan adalah implementasi berorientasi.

Baca Artikel Lainnya :

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *