Sayuti Melik, Perjalanan Hidup Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan

sayutiBiografi Sayuti Melik, Perjalanan Hidup Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan – Lahir dengan nama Mohamad Ibnu Sayuti ini lebih dikenal sengan nama Sayuti Melik. Sayuti Melik lahir di Sleman, Yogyakarta, Hindia Belanda pada tanggal 22 November 1908.

Sayuti Melik merupakan seseorang yang mengetik teks proklamasi kemerdekaan Indonesia yang prolamasikan oleh Sukarno dan Mohammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Sayuti Melik merupakan suami dari Soerastri Karma Trimurti, yang merupakan seorang jurnalis dan aktivis dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia dan juga pergerakan perempuan saat itu. Sayuti Melik saat kecil pergi ke sekolah Loro Ongko di desa Srowolan dan setelahnya melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta.

Nasionalisme telah tumbuh pada diri Sayuti Melik sejak kecil. Tulisannya mengenai politik yang ada menyebabkannya berkali-kali ditangkap oleh colonial Belanda saat itu. Pada tanggal 9 Maret 1943 Soekarno dan rekan-rekannya meminta kepada pemerintahjepang untuk membebaskan Sayuti Melik dan istrinya.

Pada tanggal 7 Agustus 1945, Panitia persiapan kemerdekaan Indonesia atau PPKI di bentuk yang dikepalai oleh Soekarno. PPKI ini merupakan komite yang dibentuk sebagai ganti dari BPUPKI yang tidak bertahan lama. Awalnya anggota berisikan 21 orang. Namun akhirnya anggota PPKI hanya menjadi enam orang termasuk Sayuti Melik.

Deklarasi kemerdekaan disusun oleh Soekarno, Mohammad Hatta dan Achmad Subardjo di kediaman laksamana Maeda (yang merupakan orang Jepang). Sukarni dan Sayuti Melik hadir juga sebagai saksi yang mewakili pemuda-pemuda revolusioner.

Sekaligus sebagai asisten dari Soekarno dan Mohammad Hatta yang menyaksikan kejadian tersebut. Dalam proses penyusunan tersebut, setelah susunan proklamasi telah siap kemudian Sayuti Melik memberikan sebuah gagasan agar Soekarno dan Mohammad Hatta untuk menandatangani teks deklarasi kemerdekaan Indonesia untuk mewakili Indonesia.

Setelah Soekarno, Hatta dan Achmad Subardjo menyetujui, Sayuti Melik langsung mengetik versi yang telah diperbaiki dari teks deklarasi tersebut sehingga dalam teks disampaikan bahwa Soekarno dan Hatta mewakili rakyat Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sayuti Melik menjadi anggota KNIP atau Komite nasional Indonesia pusat. Sayuti Melik diketahui sebagai seorang pendukung Soekarno.

Saat promosi Nasakom sedang gencar-gencarnya, Sayuti Melik melawan untuk mengganti Nasakom menjadi Nasasos, kom (komunis) jadi sos (sosialis). Sayuti Melik juga menentang keputusan MPRS yang menjadikan Soekarno presiden seumur hidup. Saat itu, Sayuti Melik melihat bahwa PKI mulai memanfaatkan karisma dari Soekarno.

Setelah masa orde baru, nama Sayuti Melik kembali berkibar di arena politik Indonesia. Sayuti Melik menjadi salah satu anggota Majelis Permusyarakatan Rakyat yang mewakili partai Golongan Karya (Golkar) dengan hasil 1971 pilihan dan 1977 pilihan.

Sayuti Melik meninggal pada tanggal 27 Februari 1989 setelah satu tahun jatuh sakit ketika Sayuti Melik berumur 80 tahun. Sayuti Melik dimakamkan di makam pahlawan Kalibata. Sayuti Melik menerima bintang Mahaputra Nararya (tingkat 5) dari Presiden Soekarno tahun 1961 dan bintang Mahaputra Adipradana II dari presiden Soeharto di tahun 1973.

Baca juga : Mohammad Narsir, Seorang Politikus Indonesia

Loading...

One thought on “Sayuti Melik, Perjalanan Hidup Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan

  1. Pingback: Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Pertama Indonesia | Joko Warino Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *