Sejarah dan Asal Usul Kesedihan Suku Pedalaman Pygmy

Dua peneliti Antropologi dari Universitas Cambridge mendefinisikan mengenai fisik masyarakat pigmy yang hanya rata-rata tinggi tubuh laki-laki dewasanya hanya maksimal diangka 155 Cm.

h 2

Pigmy disejajarkan dalam kelompok yang hidup pada beberapa wilayah seperti Indonesia, Filipina, Afrika dan kepulauan Andaman di sebelah tenggara Burma.

Kekejian dimulai semenjak para peneliti yang setuju dengan teori evolusi Darwin (Manusia berasal dari kera).

Sejarah mencatat kejadian yang sangat memilukan pada suku pedalaman Pigmy. Sekitar pada awal abad 20-an para peneliti dan ilmuwan melihat dan menemukan orang pedalaman suku pigmy yang bernama “ota benga”.

Dengan paksa dank eras mereka menangkap “ota benga” , hal tersebut dilakukan para ilmuwan tersebut karena sangat meyakini bahwa “ota benga” adalah salah satu motor dalam transisi evolusi kera menjadi manusia.

Sebenarnya beliau hanyalah seorang manusia biasa yang sama seperti yang lainnya, dan telah diketahui juga Ota benga sudah mempunyai istri dan dikarunai dua anak pula.

Akhirnya tanpa pikir panjang, ilmuwan tetap bersih kukuh bahwa “Ota benga” adalah biang transisi kera menjadi manusia, dengan dijadikan sebagai sampel penelitian dalam masa transisi manusia dari kera.

Peneliti berdalih bahwa “Ota benga” sangar mirip sekali dengan kera baik itu dari segi muka maupun tubuhnya, dan mempunyai tinggi 127 cm.

Singkat cerita, akhirnya, “Ota benga” dibawa oleh para ilmuwan ke kebun binatang “Bronx” tepat nya di NYC pada tahun 1904. “Ota benga” dipaksa hidup didalam satu kerangkeng bersama simpanse dan jenis kera lainnya, sehingga hal tersebut membuat Dr ilmuwan tersebut merasa bangga karena telah mampu membuktikan bahwa benar manusia itu berasal dari Kera, walaupun dengan cara yang agak memaksa.

Setiap hari para pengunjung menganggap “Ota benga” sebagai salah satu dari kera-kera setempat, dengan diberi makan, di ejek, terkadang dilempari anak-anak, dan banyak lagi penistaan yang dilakukan orang-orang terhadapnya.

Baca Artikel Lainnya :

Waktu berlalu begitu saja, membuat “Ota benga” merasa tertekan dan batin seakan terkoyak habis tak bersisa, akhirnya memutuskan untuk melakukan bunuh diri. Dimana peristiwa bunuh diri tersebut mengumpulkan perhatian dan simpati orang-orang yang sekaligus total menentang teori evolusi Darwin, karena telah dipatahkan oleh perisitiwa bunuh diri “Ota benga”.

Peristiwa tersebut tidak hanya berlalu sesaat saja, Verner Beradvord seorang penulis yang merasa tergugah untuk menuliskan kisah hidup yang menyedihkan “Ota benga” akibat pembuktian dan manipulasi teori evolusi yang tak masuk akal tersebut. Buku tersebut berjudul The Pigmy In The Zoo.

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *