Sejarah dan Perjalanan Hidup K.H Agus Salim

Sejarah dan Perjalanan Hidup K.H Agus Salim – K.H. Agus Salim adalah merupakan salah satu nama dari para pejuang kemerdekaan di Indonesia.

Nama aslinya adalah Mashudul Haq yang mempunyai arti pembela kebenaran. Jasanya yang paling besar adalah menumpas faham komunis, khususnya dalam organisasi Sarekat Islam.

Untitled

K.H. Agus Salim lahir pada tanggal 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Sumatera Barat, dan meninggal dunia pada tanggal 4 November 1954 di Jakarta. Pada tanggal 27 Desember 1961 Pahlawan satu ini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Pada tahun 1915 K.H. Agus Salim mendalami Islam di Jeddah dan baru kembali ke tanah air pada tahun 1911.

Ketika sekolah di Hooggere Burgerschool Batavia ia menjadi lulusan terbaik di HBS tersebut. Kemudian ia bekerja menjadi penerjemah dan pembantu notaris setelah ia lulus di sekolah tersebut.

Sejak tahun 1915 Salim terjun ke dunia jurnalistik yang kemudian diangkat sebagai Ketua Redaksi. Kegiatannya dalam bidang jurnalistik terus meroket hingga ia menjadi Pemimpin Hindia Baru yang merupakan Harian di Jakarta.

Tak puas menjadi pemimpin di Harian tersebut, ia mendirikan Surat Kabar Fadjar Asia. Menyusul ia diangkat sebagai Redaktur Harian Moestika yang terletak di Yogyakarta, ia juga membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO).

Saat itu juga ia turun dalam dunia politik dan menjadi pemimpin Sarekat Islam, ia menjadi pemimpin kedua setelah H.O.S. Tjokroaminoto.

Perjuangan Salim tidak hanya berhenti di sini saja, ia kemudian mendirikan Persatuan Pergerakan Kaum Buruh pada tahun1919 yang menuntut Pemerintah Belanda untuk segera mendirikan DPR di Indonesia. Ia juga memegang kendali atas adanya pemogokan buruh di Semarang, Surabaya, dan Cirebon.

Ketika Salim menduduki Volksraad pada tahun 1912-1924 ia banyak menantang tindakan-tindakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat. Bahasa Melayu ia tuntut agar digunakan sebagai bahasa resmi Volksraad.

Baca Artikel Lainnya :

Begitu banyak pengorbanan beliau untuk kemerdekaan Indonesia melalui Sarekat Islam, Jepang, Agresi Militer Belanda, emansipasi wanita hingga mengizinkan adanya kuliah ketika Indonesia sudah merdeka.

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *