Sejarah Dari Kesultanan Kota Yogyakarta

Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota ternama di Indonesia yang mana kota ini mempunyai sebutan yang lain dari lainnya. Nama lengkap dengan sebutan daerah istimewa Yogyakarta menjadi salah satu nama se-istimewa kotanya. Nama ini pun tak terlepas dari beberapa sejarah yang mendasarinya. Nama tersebut pun menjadi salah satu nama yang tepat bagi kota pelajar ini.

f 12

Sejarah kesultanan Yogyakarta

Pada zaman dahulu di Yogyakarta ini terdapat sebuah kerajaan bernama kerajaan Majapahit. Namun kerajaan ini terpecah menjadi dua karena adanya perjanjian Giyanti. Separuh dari kerajaan ini pun dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar menjadi Sultan Hamengkubuwana I sedangkan separuhnya lagi menjadi daerah Kasunanan Surakarta di bawah pemerintahan dari Sunan Paku Buwonon III. Yang mana nama dari wilayah ini disebut dengan nama kota Solo atau Surakarta.

Bentuk pemerintahan dari Sultan Hamengkubuwono I

Pada saat Sultan Hamengkubuwana I ini berkuasa di wilayah separuh itu, ia pun membangun sebuah kerajaan. Sebuah istana yang terletak diantara Sungai Code dan Sungai Winongo atau di Hutan Paberingan. Dari kerajaan inilah yang menjadikan penerus Hamengkubuwana I memilih nama Hamengkubuwana  II dan seterusnya.

Wilayah pemerintahan dari Sultan Hamengkubuwana I ini mencakup sekitar daerah sungai tersebut dan beberapa daerah di sekitarnya. Namun karena pihak penjajah dari Belanda yakni Raffles dan Daendels ini, menjadikan wilayah dari kesultanan menjadi berkurang. Tepatnya menjadi di area Mataram itu sendiri serta di area Gunungkidul.

Tak sedikit wilayah dari kesultanan Yogyakarta yang berkurang dan perihal ini pun membuat jumlah penduduknya juga berkurang. Tiap-tiap penduduk itu pun masih dihitung berdasarkan strata dan semakin mengurangi tiap-tiap jumlah penduduk dari masing-masing kelas atau strata.

Asal mula kebijakan nama Daerah Istimewa Yogyakarta

Dalam kebijakannya, Sultan pun memutuskan untuk tidak berhubungan dengan pihak luar. Hingga memulai pemerintahan dengan kerajaan tersebut tanpa ada campur tangan dari pihak luar terlebih pihak asing. Namun kebijakan ini pun berubah saat dimana Sultan Hamengkubuwono I tak lagi berkuasa.

Tepatnya di kala pemerintahan Sultan Hamengkubuwana IX membuka birokrasi dengan pihak Belanda. Peristiwa ini pun membuka adanya beberapa lembaga dan perubahan di beberapa bidang. Seperti dengan keputusan yang mendasari area bernama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di tahun 1940 ini pula terjadi perubahan tersebut dan menjadikan beberapa pengaruh. Selain itu, Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menyatakan suatu keputusan kepada pemerintah.

Keputusan yang dikirim lewat telegram kepada Soekarno dengan isi bahwa kerajaan Yogyakarta dan kekuasaan dari Sri Paduka Paku Alam VIII akan menjadi satu bagian dan menjadi nama Daerah istimewa Yogyakarta. Keputusan ini pun disetujui oleh presiden yang meng-iyakan bersatunya dua area kesultanan dan kerajaan menjadi satu kota.

Baca Artikel Lainnya :

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *