Sejarah Mengenai Terjadinya Perang Paderi

Selama Belanda menjajah negara Kita terjadi sekian perang di berbagai daerah, dan salah satu perang yang tercatat dalam sejarah ialah Perang Paderi. Meskipun terjadi pada masa Belanda berada di nusantara namun penyebab perang bukanlah dari pihak Belanda itu sendiri. Pecahnya Perang Paderi dilatarbelakangi oleh konflik yang melibatkan konflik agama dan juga adat secara internal antar kelompok.

fu 4

Kemudian kelompok masyarakat adat yang pada masa itu mengalami kekalahan kemudian meminta pertolongan kepada pihak Belanda. Belanda kemudian menyetujui pemberian bantuan dan berhasil memukul mundur kelompok lain yang berlawanan. Perang yang terjadi sempat mereda namun pada tahun 1833 mulai terjadi peperangan kembali. Hingga pada masa tersebut Kaum Adat mulai menyadari akan kesalahan keputusan yang telah diambil, dimana melibatkan pihak Belanda.

Penyebab Terjadinya Perang Paderi

Asal muasal terjadinya perang Paderi berawal dari kepulangan para jamaah haji, yakni ada tiga orang yang terdiri dari Haji Miskin, Haji Piobang, dan juga Haji Sumanik. Sekembalinya dari tanah Suci ketiga ulama tadi memiliki niatan untuk melakukan perbaikan terhadap syariat islam yang dianut masyarakat setempat.

Mendengar niatan tersebut, kemudian oleh Tuanku Nan Renceh merasa sependapat dan kemudian bergabung, hingga terdiri dari 4 orang ulama besar. Keempat ulama ini kemudian membentuk perkumpulan yang diberi nama Harimau Nan Salapan.

Suatu ketika perkumpulan Harimau Nan Salapan kemudian mencoba bertemu dengan Kaum Adat, yang menjadi kaum berpengaruh di sana. Pertemuan juga melibatkan Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah. Pertemuan ini bertujuan untuk mengajak Kaum Adat meninggalkan beberapa kebiasaan adat yang menyimpang dari syariat Islam.

Perundingan pun terjadi beberapa kali karena tidak ditemukannya kesepakatan mengenai permohonan yang diajukan kaum Padri tersebut. Kondisi kedua belah pihak kemudian memanas, dan mencapai puncaknya pada tahun 1815.

Puncaknya terjadi ketika Tuanku Pasaman memimpin para Kaum Padri menyerang kerajaan Pagaruyung dan memicu terjadinya perang di Koto Tangah. Pertempuran ini kemudian mengakibatkan Sultan Arifin Muningsyah harus menyelamatkan diri. Menurut bukti sejarah, yakni surat yang ditulis oleh Rafless, pada tahun 1818 melakukan kunjungan ke kerajaan Pagaruyung. Namun setelah sampai di lokasi kerajaan beliau hanya disambut oleh puing-puing dari bangunan kerajaan yang telah dibakar.

Belanda ikut terlibat dalam perang Paderi ini karena pemimpin kaum Adat, yakni Sultan Tangkal Alam Bagagar yang meminta bantuan kepada Belanda. Beberapa pertempuran pun terjadi dan melibatkan Belanda, dimulai dari serangan ke Sulit Air dan juga Simawang. Serangan demi serangan terjadi, dan sempat menempatkan kaum Paderi kepada kekalahan.

Namun perlawanan tidak berhenti hingga pada tahun September 188 pasukan Belanda berhasil dipukul mundur. Pada November 1825 terjadi ketenangan dengan adanya perjanjian Masang. Kemudian oleh Imam Bonjol mencoba mengajak Kaum Adat bergabung menaklukkan Belanda dan berhasil mendapatkan kemenangan.

Baca Artikel Lainnya :

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *