Seniman Musik dan Pahlawan Nasional Ismail Marzuki

Seniman Musik dan Pahlawan Nasional Ismail Marzuki – Ismail Marzuki juga dikenal dengan panggilan Bang Maing, yang lahir pada tanggal 11 Mei 1914 di Kwitang Jakarta (saat itu dikenal dengan Batavia) ini adalah seorang composer, pencipta lagu dan juga musisi yang telah menulis lagu sangat banyak antara 202 ismail marzukisampai 240 lagu selama gidupnya (1914-1958). Lagu-lagu tersebut termasuk beberapa lagu patriotic yang terkenal.

 Diantara semua lagunya yang dikenal adalah Gugur Bunga, Selendang Sutera dan Rayuan Pulau Kelapa. Tema lagu yang ditulis berisikan tema cinta dan patriotism terhadap Indonesia. Liriknya mudah untuk diingat dengan lirik dan melodi yang sederhana. Pada tahun 1968, Ismail Marzuki dibuatkan sebuah taman yang dikenal dengan nama Taman Ismail Marzuki (TIM) yang merupakan salah satu pusat kebudayaan di Jakarta Pusat. Kemudian pada tahun 2004, Ismail Marzuki diumumkan sebagai salah satu dari Pahlawan Nasional Indonesia.

Darah music mengalir dari sang ayah yang bermain rebana saat itu. Sejak kecil Ismail Marzuki sangat menikmati music, mendengarkan lagu berulang-ulang dari gramophone keluarganya dan belajar bermain rebana, ukulele dan juga gitar. Ismail Marzuki belajar di sekolah dasar untuk penduduk Indonesia Hollandsch-Inlandsche School Idenburg di Menteng, kemudian Iamail Marzuki melanjutkan ke sekolah menengah bahasa Belanda Meer Uitgebreid Lager Onderwijs di jalan menjangan, Jakarta.

Oleh karena itu, Ismail Marzuki lancer berbahasa Indonesia, Inggris dan juga Belanda. Ismail Marzuki juga belajar agama di madrasah Unwanul Wustha. Namun, Ismail Marzuki tidak belajar music secara formal melainkan belajar secara otodidak.

Pada tahun 1931, Ismail Marzuki menciptakan lagu pertamanya, O Sarinah, yang menceritakan kesusahan seseorang. Ismail Marzuki memulai karir bermusiknya dengan bergabung dengan orchestra Lief Java, di bawah asuhan Hugo Dumas.

Pada tahun 1934 Ismail Marzuki menjadi seorang broadcaster dengan Nederlandsh-Indische Radio Omproep Maatschappij, the national radio station of the Dutch East Indies, dan kemudian menuju orchestra studio Jakarta, orchestra studio Bandung dan kemudian ke orkestra Hoso Kanri Kyoku selama Jepang menjajah Indonesia. Pada tahun 1957, Ismail Marzuki menulis lagu terakhirnya, Inikah bahagia. Ismail Marzuki meninggal pada tanggal 25 Mei 1958 di kediamannya di tanah abang, Jakarta. Ismail Marzuki dimakamkan di pemakaman Karet Biyak.

Ismail Marzuki menikah dengan seorang wanita berdarah sunda, Euis Zuraidah. Istrinya seorang penyanyi keroncong sunda dan pemimpin dari sebuah orchestra di Bandung pada tahun 1931.

Istrinya menjadi salah satu inspirasi Ismail Marzuki dalam menulis lagu sunda, Panon Hideung, yang merupakan versi sunda dari lagu Dark eyes. Ismail Marzuki mengaransemen lagu tersebut dengan lirik baru. Ismail Marzuki telah dideskripsikan sebagai seseorang yang memiliki insting yang bagus dalam bermusik, sama seperti seorang yang genius dan seorang legendaris.

Ismail Marzuki pada tanggal 17 Agustus 2061 menerima penghargaan pertama Wijaya Kusuma dari presiden Suharto. Beliau juga diketahui sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia di bulan November 2004 dengan deklarasi presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Baca juga : Maestro musik Indonesia Dwiki Dharmawan

Loading…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *