Seniman Ukir Suku Dayak Kalimantan

waheaSeniman Ukir Suku Dayak Kalimantan – Di Indonesia, perkembangan seni ukir cukup berkembang. Seni ukir yang cukup dikenal di Indonesia berasal dari beberapa daerah yaitu seni ukir Bali, Jepara dan yang tidak kalah menarik dan bagusnya seni ukir Wahea dari Kalimantan (suku dayak).

Kebanyakan pemuda Wahea tidak lagi mau mengukir karena mengukir menurut mereka tidak bisa dijadikan pekerjaan sedangkan mereka butuh penghasilan yang cukup agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Namun, diantara semua pemuda – pemuda tersebut masih ada satu orang pemuda asal Wahea yang tetap mengukir sampai saat ini. pemuda ini bernama Yakobus Zamrie atau Hat Hong Ha (nama Waheanya).

Yakobus Zamrie belajar melukis sendiri (otodidak) tanpa ada yang mengajari sebelumnya. Ketika Yakobus Zamrie melihat contoh maka Yakobus Zamrie akan mencoba menirunya dan dengan cara inilah Yakobus Zamrie belajar mengukir. Yakobus Zamrie sempat melanjutkan pendidikan hingga D1 jurudan Komputer di Ibu kota Negara kita kemudian setelah itu Yakobus Zamrie kembali ke kampungnya di Kutai Timur, Kalimantan Timur.

Yakobus Zamrie lahir di desa Nehas Liah Bing, Kutai Timur pada tanggal 8 Juni 1973. Di desa Yakobus Zamrie dan temannya diberi tanggung jawab dalam membuat ukiran di kayu ulin gelondongan untuk balai desa adat mereka. Ukiran yang mereka buat cukup menarik, bagian atas dan bawah dibuat seperti potongan seperti roda tebal. Sedangkan di tengah tiang dibuat segi delapan yang dipenuhi ukiran.

Yakobus Zamrie merupakan anak yang pertama dari Ledjie Taq yang merupakan kepala adat di desa Nehas Liah Bing. Yakobus Zamrie percaya bahwa keterampilan yang ia miliki juga merupakan bakat keturunan dari leluhurnya karena kakeknya mampu membuat ukiran dengan berbagai motif Wahea. Yakobus Zamrie hanya perlu terus melatih kemampuannta dalam mengukir akar menjadi lebih baik. Yakobus Zamrie mulai memiliki ketertarikan mengukir sejak masih sekolah SMP.

Tujuan awal Yakobus Zamrie dalam mengukir sebenarnya untuk membantu orang tuanya dalam membiayai sekolah dan kebutuhan sehari-harinya. Bahkan sejak SMP, telah ada seorang wisatawan berkebangsaan Belanda yang membeli karya ukiran patunya dengan harga yang murah dan sekarang Yakobus Zamrie sama sekali tidak ingat lagi jumlah ukiran yang telah ia buat selama ini.

Meskipun dulu Yakobus Zamrie hanya bisa menjual karyanya dengan harga yang murah sekitar 20 ribu, namun sekarang harga ukirannya bervariasi bahkan sampai jutaan.

Terdapat tiga jenis ukiran di tradisi Wahea menurut Yakobus Zamrie, yaitu Loweh, bentuknya lekukan wajah (loweh), ukiran kecil dan ukiran biasanya berupa patung. Biasanya dalam mengukir Yakobus Zamrie minimal memasukkan dua jenis ukiran tersebut. Diantara ketiga jenis ukiran tersebut, yang paling khusus atau khas dari Wahea adalah loweh (ukiran wajah yang melengkung).

Pengukir dari Wahea biasanya mampu mengukir menggunakan kayu ulin bekas atau sisa. Yakobus Zamrie merupakan salah satu pemuda yang mampu membuat ukiran patung, topeng, tangga atau benda apapun dengan motif khas dayak (Wahea) dari kayu sisa tersebut.

Baca juga : Taufiq Ismail, Sastrawan dan Aktivis Indonesia

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *