Soto Sampah Khas Jogja, Dijamin Halal Dan Bersih Meskipun Namanya Terkesan Jorok

Soto Sampah Khas Jogja, Dijamin Halal Dan Bersih Meskipun Namanya Terkesan Jorok – Di masing-masing sudut pasar tradisional Kranggan, Yogyakarta, terdapat sebuah kedai atau warung penjual makanan Nusantara khas kota Jogja bernama soto sampah !

Kedengarannya sangat aneh tapi bukan berarti sajian tersebut biasa-biasa saja dan dari namanya terkesan jorok karena identik dengan setumpuk sampah yang berserakan di pasar-pasar tradisional.

laptop

Menurut cerita warga setempat, nama soto ini diberikan bukan dari si penjual yang menamai soto sampah, tapi dari para pelanggan dan pembelinya.

“ Barangkali karena cara penyajiannya agak awut-awutan (berantakan), sehingga pembeli menyebutnya soto sampah.

Ya sudah, kita nurut aja apa kata pembeli. ” celetuk Wahyu, salah seorang penjual warung angkringan yang menyediakan menu utama bernama soto sampah.

Lazimnya sajian soto khas Nusantara yang biasanya disajikan di dalam mangkuk, soto ini disajikan dengan piring.

Komposisinya adalah bihun, kecambah atau toge mentah, kol atau kubis mentah, daun seledri diiris tipis, dan disiram dengan kuah kaldu ayam yang dimasak dengan campuran rempah – rempah.

Pelengkapnya adalah sambal cabe, rasanya segar dan mantap dimakan dengan sepiring nasi hangat pulen. Kaldu yang digunakan sama seperti kuah soto lainnya yaitu daging ayam atau kadang-kadang memakai daging sapi.

Penasaran kan dengan rasanya ? Mampir saja ke pasar Kranggan dan rasakan sensasi beda dari sepiring soto sampah yang memiliki citarasa sangat sederhana.

Coba Juga Mencicipi Sajian Istimewa : Soto Djiancuk Khas Bantul, Jogja !

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar istilah djiancuk dalam bahasa Jawa Jogja ?

Bagi anda para backpacker yang kebetulan jalan-jalan ke kota Bantul di Jogja, di sini anda akan kaget karena di jalan-jalan tikus banyak dijumpai warung-warung angkringan yang menjajakan menu sama antara satu warung dengan warung lainnya yaitu sajian Nusantara bernama soto seperti salah satu yang terkenal adalah warung soto Djiancuk khas kota Bantul, Yogyakarta.

Djiancuk yang dimaksud adalah umpatan dalam bahasa Jawa yang kurang lebih mengandung arti dalam bahasa Indonesia ‘ sialan ’ atau ‘ keparat. ’ Kenapa soto sesedap soto khas Bantul dinamai umpatan seperti itu ?

Karena rasanya sangat enak tetapi dijual dengan harga murah, pemandangan seperti itulah yang kerap terjadi di warung-warung angkringan soto khas Jawa Timuran yang berlokasi di sepanjang jalan PGRI 2 no. 59, Kasihan Bantul, Jogja.

Sebut saja Parjinah, adalah warga asli kota Bantul yang berusia 53 tahun, merupakan sang pemilik warung angkringan yang sudah lama menekuni bisnis kecil berjualan soto, dimana setiap hari beliau mampu menjual dagangannya hingga habis dimana para pembelinya adalah rata-rata para pelajar, mahasiswa/wi, pekerja kantor hingga buruh kasar pun suka mampir ke warung sederhana yang dikelola oleh mereka.

Ditambah segelas minuman segar yang bisa anda pilih sendiri seperti teh panas, es jeruk, jus alpukat atau secangkir kopi panas, membuat selera makan anda menjadi meningkat tajam.

“ Itu cuma istilah ringan biar mudah diingat, kalau yang kami jual itu soto khas Jawa Timuran. Orang Jawa Timur kan kalau mengumpat bilangnya Djiancuk, gitu,” kata Parjinah.

Baca Artikel Lainnya :

Lokasi warung angkringan Parjinah terletak di kota Blitar, yang khusus menyediakan menu andalan warung angkringannya yaitu soto Djiancuk yang terdiri dari nasi pulen hangat, potongan daging rendang sapi, semangkok sup pedas panas dengan kecambah (toge segar), irisan telur rebus, irisan tomat segar, taburan keripik kentang kriuk, dan disiram kuah kental kaldu sapi dicampur rempah – rempah kuning kunyit, rasanya benar – benar mantap.

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *