Teknik Budidaya Labu Pahit atau Karela  

Labu pahit atau karela atau yang lebih dikenal dengan nama pare atau peria merupakan tumbuhan yang merambat yang berasal dari India di bagian barat yaitu dari Assam dan Burma. Tumbuhan bernama ilmiah M. Charantia ini memiliki rasa yang pahit. Kandungan yang ada di tumbuhan ini diantaranya yaitu lemak, karbohidrat, serat, gula, kalsium, magnesium, berbagai macam vitamin. Tumbuhan ini juga baik untuk penderita diabetes karena dapat membantu untuk mengurangi kandungan gula yang ada di dalam darah dan juga di air kencing.

1

Tanaman pare memiliki prospek yang cukup bagus. Jarak panen dari buah ini relatif pendek yaitu 1 minggu. Terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membudidayakan pare atau labu pahit. Pertama, siapkan lahan terlebih dahulu. Lokasi yang ideal untuk membudidayakan pare yaitu di ketinggian 1000-15000 mdpl. Pengolahan tanah dengan membersihkan lahan dari tumbuhan liar dan menggemburkannya setidaknya 10 hari sebelum digunakan untuk menanam. Buat bedengan membujur dari selatan ke utara dengan panjang, lebar, tinggi yaitu 1x30x10 cm dan berjarak 120 cm.

Sebelum digunakan untuk lahan tanam, taburi bedengan dengan menggunakan pupuk kandang dan dolomyit atau kapur untuk menetralkan tanah terutama tanah yang terlalu masam hingga pH tanah menjadi 6-6.5. aduk dengan tanah hingga rata dan rapikan bedengan kemudian rayakan permukaan. Kemudian tutup dengan menggunakan mulsa hp. Jangan lupa untuk melubangi bedengan tersebut dengan jarak sekitar 1×1 m atau 0.8×0.8 m. Setiap lubang diberi 1 benih dan diberi furadan. Tutup lubang dengan menggunakan tanah dan siram.

Pada pemeliharaannya, dilakukan beberapa cara. Penyulaman dilakukan pada benih tidak mengalami pertumbuhan yang sehat dengan benih baru. Cara ini dapat dilakukan saat 1 MST dan pengajiran saat 2-3 MST. Ajir terbuat dari bambu dengan ukuran 2×200 cm yang ditancapkan di pinggir tumbuhan dengan jarak sekitar 5-10 cm dan sedalam 20-30 cm. Ujung bambu disambungkan dengan bambu yang lain dan ditambahkan untuk posisi melintang agar dapat membentuk kotak. Penyiangan dilakukan secara rutin yaitu 2 minggu sekali dengan mencabut rumput yang tumbuh di sekitar lubang.

Pemeliharaan lainnya sebelum melakukan panen pada 2 bulan setelah tanam dan dapat dilakukan 4-5 hari sekali, diantaranya yaitu:

  • Pemangkasan yang dilakukan 2 kali ketika umur 3 MST dan 6 MST (minggu setelah tanam). Pemangkasan dilakukan agar tunas dapat tumbuh menyebar dan hasil maksimal.
  • Penyiraman atau pengairan dengan cara drip atau dengan setor langsung hingga kapasitas air lapang. Penyiraman harus dilakukan rutin dan harus disesuaikan dengan kondisi tanah.
  • Pemupukan yang dilakukan dengan dosis yang sesuai dengan umur tanaman. Direkomendasikan untuk memberikan pupuk P dan K dengan tingkatan kandungan sedang.

Baca Artikel Lainnya :

Loading…

About Mas Joko

Bukan Indonesia Yang Membutuhkan Dunia, Namun Dunia Yang Membutuhkan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *