Biografi Tokoh Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara

Biografi Tokoh Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara  -Ki Hajar Dewantara merupakan Menteri Pendidikan pertama di Indonesia. Dengan periode jabatan mulai 2 September 1945 hingga November 1945. Ki Hajar Dewantara memiliki nama lahir Raden Mas Soewardi Soeryaningrat atau juga sering disebut Suwardi Suryaningrat.

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Ki Hajar Dewantara merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, penulis, politisi dan juga pioner dari pendidikan Indonesia di masa kolonial Belanda. Ki Hajar Dewantara mendirikan sekolah taman siswa, yaitu sebuah institusi yang menyediakan pendidikan untuk masyarakat pribumi saat itu, yang saat itu pendidikan sangat dibatasi untuk keturunan ningrat dan kolonial Belanda.

Ki Hajar Dewantara diberikan penghargaan sebagai pahlawan nasional Indonesia oleh presiden pertama Indonesia Soekarno pada tanggal 28 November 1959. Ki Hajar Dewantara merupakan keturunan ningrat jawa, keluarganya berkedudukan di keratin Yogyakarta.

Berkat latar belakang keluarga priyayinya, Ki Hajar Dewantara mampu mengakses pendidikan umum untuk kolonial, sesuatu yang berharga oleh kebanyakan populasi pribumi saat itu. Ki Hajar Dewantara lulus dari sekolah dasar di Dutch Primary School (ELS).

Kemudian Ki Hajar Dewantara melanjutkan pendidikannya ke STOVIA, sekolah kesehatan untuk siswa pribumi. Meskipun, Ki Hajar Dewantara gagal untuk lulus karena sakit yang dideritanya. Kemudian Ki Hajar Dewantara bekerja sebagai seorang jurnalis dan menulis banyak sekali surat kabar, di antara yang lainnya, seperti Sediomo, De Expres, Kaoem Moeda, Midden Java, Tjahaja Timoer dan juga Poesara.

Selama karirnya di media surat kabar, Ki Hajar Dewantara diketahui sebagai seorang yang bertalenta dan berhasil menjadi seorang penulis. Gaya tulisannya dikenal banyak orang, komunikatif dan dibumbui denghan idealism kebebasan san sentiment anti kolonial.

Ki Hajar Dewantara pernah diasingkan ke Belanda, Ki Hajar Dewantara selama pengasingannya tersebut tetap aktif di organisasi siswa Indonesia, indies Associaton. Di sini dimana Ki Hajar Dewantara mengupayakan ide dalam mengembangkan pendidikan ilmu untuk pribumi, dengan mendapatkan sertifikat Eropa, sebuah pendidikan diploma yang menjadi dasar dalam pendirian institute pendidikan yang akan didirikannya.

Dalam hal ini, Ki Hajar Dewantara sangat kagum ole hide dari gambaran pendidikan barat seperti Froebel dan Montessori sebagaimana aktivis pengembangan pendidikan. Pengaruh dari hal tersebut telah berkontribusi dalam ide Ki Hajar Dewantara pada pengembangan system pendidikan miliknya sendiri.

Pada bulan September 1919, Ki Hajar Dewantara kembali ke rumahnya di jawa. Segera setelah itu, Ki Hajar Dewantara bergabung dengan kakanya untuk membangun sebuah sekolah di kota lahirnya. Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajarnya kemudian membuktikan itu jadi sangat berguna dalam pengembangan konsep mengajar di sekolah, seperti Ki Hajar Dewantara menemukan pendidikan nasional.

Selama masa diskriminasi social colonial di awal abad ke 20, pendidikan yang hanya membungkinkan untuk kalangan ningrat, orang-orang colonial belanda dan keluarga jawa yang memiliki kedudukan. Pendidikan pada masa itu tidak tersedia untuk orang pribumi. Pada bulan Juli 1922, Ki Hajar Dewantara mendirikan Sekolah Taman Siswa di Yogyakarta, sebuah pergerakan pendidikan jawa yang menjadi jalan dalam menyediakan pendidikan untuk orang pribumi.

Ketika dia mencapai umur 40 tahun, berdasarkan kepercayaan jawa yang didasarkan pada kalender jawa, dia mengubah namanya dari Soewardi Soeryaningrat yang dipercaya membawa keburukan untuknya menjadi Ki Hajar Dewantara sebagai nama barunya.

Ki Hajar Dewantara juga membuang nama depan Raden Mas di depan namanya. Ini merupakan bentuk demonstrasi dukungannya untuk kesamaan social, ketidak setujuannya pada strata social di jawa. Ki Hajar Dewantara mencoba untuk berinteraksi bebas dengan orang dari semua latar belakang social dan dekan dengannya secara raga maupun hati.

Ki Hajar Dewantara telah membuat sebuah semboyan dalam mendeskripsikan idealismenya untuk pendidikan. Berdasarkan sastra jawa dibaca “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Yang diterjemahkan menjadi ‘(untuk mereka) yang di depan sebaiknya dijadikan contoh, (untuk mereka) yang di tengah sebaiknya meningkatkan spirit, dan (untuk mereka) di belakang sebaiknya memberikan dukungan”.

Semboyan tersebut digunakan sebagai prinsip di sekolah Taman Siswa. Dan bagian dari semboyan tersebut “Tut Wuri Handayani” digunakan sebagai motto dari kementerian pendidikan Indonesia. Ini diartikan untuk menggambarkan seorang guru yang ideal, setelah menyampaikan pengetahuan untuk siswanya, guru akan berdiri di belakang siswanya dan memberikan dukungan dan semangat dalam pendidikan. Ki Hajar Dewantara akhirnya meninggal di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959.

Baca juga : Biografi Levi Straus : Penemu Celana Favorit Anak Muda

Loading…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *