Upacara Turun Tanah Pada Masyarakat Aceh

Masyarakat di Aceh sebagaimana masyarakat lainnya di Indonesia, sejak dulu mempercayai bahwa ada masa peralihan dari kehidupan seseorang ( sejak mereka lahir sampai kematian) adalah masa – masa yang krisis dan penuh dengan dilema kehidupan. Maka dari itu, dibutuhkan suatu usaha untuk menetralkannya.

k 54

Wujud nyata dari usaha itu adalah dengan adanya beragam bentuk upacara di lingkaran hidup antar individu, seperti upacara adat kehamilan, kelahiran, turun tanah, perkawinan dan kematian.

Melalui artikel ini kami akan menguraikan salah satu upacara yang kerap digelar di lingkaran hidup individu dalam satu keluarga yang dilakukan oleh masyarakat asli Aceh yaitu upacara turun tanah yang meliputi : asal – usul, peralatan, tata laksana, dan nilai budaya yang terkandung dalam upacara turun tanah.

Upacara adat Turun Tanah biasanya melibatkan kerabat ibu dan ayah dari sang jabang bayi, tetapi dalam skala besar juga mengundang para tetangga dan handai taulan.

Seorang yang berasal dari keluarga bangsawan, memiliki budi pekerti yang terpandang dan seorang alim ulama (tuan guru marhaban) adalah mereka yang biasanya ditunjuk untuk memimpin jalannya marhabanan.

Maka dari itu, sebagai persiapan, semua yang akan terlibat dalam upacara ini (hendaknya diberitahu terlebih dahulu pada hari – hari tertentu yang dianggap hari bagus ) untuk diminta kehadirannya buat menyaksikan dan sekaligus mendoakan bayi yang akan diturun – tanahkan.

Selain itu, pihak penyelenggara yang terkait juga akan mempersiapkan bahan dan peralatan yang diperlukan dalam upacara tersebut. Besar – kecilnya atau mewah – sederhananya upacara adalah bergantung pada kemampuan keuangan dari pihak penyelenggara.

Biasanya untuk tingkat anak pertama, baik itu laki – laki maupun perempuan, diperlakukan secara khusus jika dibandingkan dengan anak kedua atau ketiga dan seterusnya.

Dimana yang menjadikan upacara adat ini berkesan unik sehingga pelaksanaannya seringkali dijadikan sebagai objek wisata setempat untuk turis asing adalah penyembelihan kerbau atau sapi jantan usia dewasa tepat kawin dipersembahkan sebagai kurban untuk memeriahkan pesta yang ditujukan buat anak pertama ketimbang anak kedua atau ketiga yang cenderung lebih sederhana (yaitu upacara tanpa penyembelihan kerbau atau sapi jantan ).

Nilai Budaya

Turun tanah merupakan salah satu upacara tradisional masyarakat Aceh. Upacara yang berhubungan dengan lingkaran hidup individu dalam sebuah keluarga di Aceh ini.

jika dicermati dengan serius maka di dalamnya mengandung nilai – nilai budaya yang maha luhur sehingga bisa dijadikan sebagai acuan dalam menjalani kehidupan, baik itu di dunia maupun akherat. Nilai -nilai itu antara lain : kerajinan, kesatriaan, keberanian, dan ketaqwaan.

Nilai kerajinan melukiskan makna simbolik terdalam dari ritual upacara adat ini berupa kegiatan yang paling kecil di rumah yaitu menyapu halaman dan menampi beras yang dilakukan oleh dua orang kerabat dari keluarga Ayah sang bayi.

Baca Artikel Lainnya :

Nilai kesatriaan ditonjolkan dari ritual mencangkul tanah dan mencincang batang pisang muda atau batang tebu kuning dewasa. Kemudian, nilai terakhir adalah nilai keberanian yang tercermin dari pemecahan buah kelapa gading.

Nilai tambahan berupa ketaqwaan tercermin dari pemakaian anting – anting emas kuning pada telinga anak perempuan dan pengolesan bibir dengan memakai madu lebah murni pada anak laki – laki dan anak perempuan yang disertai dengan ucapan doa : “ Mudahlah rezekimu, taat dan beriman serta berguna bagi agama ”.

Loading…

About Rita Elfianis

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas pasti akan membuahkan hasil. Tetaplah berusaha menggapai impian kita. Jangan menyerah.

  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *